Bagaimana Membangun Mentalitas Atlet yang Bekerja Keras, Komitmen, Konsisten, dan Bermental Juara?

Jakarta, Idola 92.6 FM – Kerja keras, komitmen, dan sikap pantang menyerah mengantar Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon mempertahankan gelar juara All England untuk kedua kalinya. Pada turnamen bulu tangkis tertua tersebut ganda putra Indonesia itu dapat mengatasi tekanan tampil sebagai juara bertahan dan membuktikan diri sebagai pasangan terbaik dunia.

Merujuk pada Kompas (20/03/2018), mantan pebulutangkis Christian Hadinata mengatakan, Kevin/Marcus berhasil melewati ujian mental tampil dengan status sebagai juara bertahan. Banyak atlet yang setelah juara, penampilan mereka menurun karena tidak kuat mengatasi tekanan. Namun, Kevin/Marcus sebaliknya, mereka bisa keluar dari tekanan, menguasai pertandingan dan menang dengan meyakinkan.

Kevin/Marcus menjadi juara All England setelah menakhlukkan ganda Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen, 21-18, 21-17 di Birmingham Arena Inggris, Senin dini hari lalu. Prestasi ini merupakan pengulangan pencapaian mereka pada tahun 2017. Dengan kemenangan inni, Kevin/Marcus mencatatkan sejarah sebagai ganda putra Indonesia pertama yang dapat merebut gelar All England dua kali berturut-turut sejak terakhir kali diukir 22 tahun lalu oleh ganda putra Ricky Subagja/Rexy Mainaky (1995-1996).

Lantas, apa arti kemenangan dan capaian Kevin/Marcus bagi peningkatan prestasi olahraga Indonesia? Dalam waktu dekat ini, kita akan menghelat ajang Asian Games. Nah, belajar dari mereka, bagaimana membangun mentalitas atlet kita yang memiliki semangat kerja keras, komitmen, konsisten, tak mudah berpuas diri, dan bermental juara? Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang mewawancara Budiarto Shambazy (pengamat olahraga/wartawan senior kompas). [Heri CS]

Berikut wawancaranya:

Artikel sebelumnyaMenyoal Ekspor Minyak Kelapa Sawit Mentah (CPO) asal Indonesia dihambat Sejumlah Negara, Bagaimana Mestinya Sikap Indonesia?
Artikel selanjutnyaMenimbang Utang Luar Negeri yang Tembus Rp4000 triliunan