Seberapa Mendesak Pemetaan SDM di Tengah Sarjana Pendidikan Yang Melimpah?

Semarang, Idola 92.6 FM – Pemetaan sumber daya manusia kian penting. Apalagi di era revolusi 4.0 yang kian membutuhkan tenaga kerja yang andal. Sejumlah kalangan berharap, jangan sampai produksi lulusan perguruan tinggi, tidak sesuai dengan kebutuhan yang berdampak pada lahirnya penganggur terdidik.

Ali Ghufron Mukti dalam Rakernas Kemristek dan Dikti tahun 2018 mengatakan, dari Rencana Induk Pengembangan Sumber Daya Iptek Dikti Sektor Pendidikan 2016-2024 terlihat lulusan sarjana pendidikan dari perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN/PTS) sudah melampaui kebutuhan perekrutan guru secara nasional. Pada 2016 ada lebih dari 254.000 lulusan program S-1 pendidikan. Padahal, kebutuhan tenaga guru pada 2017 hanya sekitar 27.000 orang. Artinya, hanya 11 persen yang terserap.

Menurut Tajuk Rencana Kompas (20/1), karena tunjangan sertifikasi yang besarnya satu kali gaji pokok, telah mendongkrak minat lulusan sekolah menengah untuk jadi guru. Alhasil, lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) yang ”mencetak” calon guru juga tumbuh subur. Sebelumnya ada 12 LPTK eks IKIP serta 24 fakultas keguruan dan ilmu pendidikan di PTN ditambah LPTK swasta. Setelah itu, menjamur LPTK swasta: lebih dari 410 lembaga!

Sekarang ini, pada Pangkalan Data Pendidikan, terdaftar sekitar 5.500 program studi pendidikan negeri dan swasta. Jumlah mahasiswanya sekitar 1,18 juta orang dan lulusannya lebih dari 100.000 orang per tahun. Lantas, Mau dibawa ke mana lulusan yang membeludak ini? Kita seolah telah menciptakan mesin produksi guru yang mubazir dan produksinya akan terus berlangsung tanpa bisa dihentikan.

Lalu, bagaimana jalan keluar atas situasi ini? Seberapa mendesak pemetaan SDM di tengah Sarjana Pendidikan yang melimpah? Selain itu, bagaimana sistem pendidikan menyiapkan para tenaga didik yang berkompeten tanpa harus banyak menghabiskan waktu?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Syamsul Rizal (profesor di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh; Alumnus ITB dan Universitas Hamburg, Jerman) dan Prof Ali Ghufron Mukti (Dirjen Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Kemenristek dan Dikti). [Heri CS]

Berikut Diskusinya:

Artikel sebelumnyaSudirman Said Minta Keluarga Korban Bencana Brebes Tetap Sabar
Artikel selanjutnyaMewaspadai Korupsi Politik