Dinkes Purworejo Butuh Tambahan JMD Untuk Atasi Malaria

Semarang, Idola 92.6 FM – Kasus penyakit malaria di Kabupaten Purworejo cukup tinggi, dan masuk daerah endemik dan tertinggi di Pulau Jawa. Bagi penderita penyakit malaria yang dibawa nyamuk Anopheles itu, membutuhkan waktu cukup lama untuk penyembuhan dan kontrol pencegahannya.

Kepala Dinas Kesehatan Purworejo Sudarmi mengatakan menghilangkan sumber penularan malaria, maka pengobatan penderitanya harus tuntas.

Pada 2018 kemarin, jelas Sudarmi, ada 196 warga Purworejo yang terjangkit malaria. Angka tersebut sudah mengalami penurunan cukup tajam, dari 1.500 kasus di 2015 lalu.

Menurutnya, Pemkab Purworejo terus berupaya melakukan eliminasi kasus malaria hingga 2022 mendatang. Namun, untuk bisa mencapainya dibutuhkan tenaga juru malaria desa (JMD) yang cukup.

Sebab, lanjut Sudarmi, dari 70 fokus aktif penanganan penyakit malaria di Purworejo, pihaknya hanya memiliki 35 JMD saja.

“Terima kasih atas perhatian dari pemerintah pusat kepada kami, kami selalu dapat bimbingan atau arahan dari pusat. Karena yang belum eliminasi hanya Purworejo dan Banjarnegara. Di Banjarnegara kasusnya sudah sangat menurun, tapi kami kasusnya masih banyak. Alhamdulillah tahun ini impor hanya satu untuk di Purworejo. Terkait dengan itu, kami di Purworejo memiliki 70 fokus aktif tapi kami hanya punya 35 JMD. Jadi, kami sangat memerlukan dana untuk JMD,” kata Sudarmi di Semarang.

Lebih lanjut Sudarmi menjelaskan, saat ini yang bisa dilakukan untuk pencegahan malaria dengan memantau warga. Yakni, ketika ada warga yang pulang dari merantau di pulau endemis malaria, maka wajib dilakukan pengecekan kesehatan untuk diketahui mengidap plasmodium dalam darahnya atau tidak.

“Yang muncul sekarang itu penderita impor, yaitu ada warga yang baru pulang merantau. Jumlahnya memang tidak banyak,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjut Sudarmi, petugas dari Dinas Kesehatan akan berkeliling setiap hari ke desa-desa dan kecamatan melakukan pengecekan apabila ada laporan warga mengalami demam. Karena, masih ada anggapan bahwa malaria adalah penyakit demam biasa. (Bud)

Artikel sebelumnyaDinporpar Jateng Terus Bina Bibit-bibit Siswa Atlet Berprestasi
Artikel selanjutnyaHarga Bawang Putih Bisa Stabil, BI Tunggu Impornya Masuk di Jateng