Guru Honorer di SLB Surakarta Minta Diangkat Jadi PNS

Gubernur Ganjar Pranowo berdialog dengan guru honorer yang mengajar di SLB Surakarta, Senin (25/11).

Semarang, Idola 92.6 FM-Hari ini tepat 74 tahun, Hari Guru Nasional. Bahkan, dalam peringatan Hari Guru Nasional tahun ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dipimpin seorang menteri dari generasi milenial, Nadiem Makarim.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo merespon pidato Mendikbud Nadiem Makarim di Peringatan Hari Guru tahun ini, karena isi pidato yang ditulis dalam dua halaman itu cukup fenomenal dan menjadi viral dalam waktu hitungan jam.

Menurutnya, pidato yang singkat dan langsung itu langsung mengena pada poko persoalan.

Ganjar menjelaskan, Nadiem ingin membuat sebuah gebrakan baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Terutama, dalam hal pemberian perhatian kepada guru untuk berinovasi dan berkreasi. Guru-guru diminta membuat terobosan, dan menyiapkan siswanya sebelum terjun di masyarakat.

Oleh karena itu, dengan pidato dari Mendikbud Nadiem Makarim ini Jateng akan menjadi tempat uji coba pendidikan revolusioner.

“Sebenarnya, pidatonya menjadi sesuatu yang luar biasa karena belum banyak dibacakan sudah beredar. Pidatonya singkat, langsung mengena dan ini sebenarnya ciri-ciri kalau kita membaca mas menteri kita mau yang praktis. Ada harapan besar, memberikan ruang dan waktu yang lebih banyak kepada guru-guru untuk berinovasi dan berkreasi. Siswa-siswa ini diharapkan betul-betul punya pengalaman, punya pendidikan dan nantinya turun ke masyarakat menjadi siap,” kata Ganjar saat menjadi inspektur upacara Hari Guru Nasional di SMAN 1 Semarang, Senin (25/11).

Lebih lanjut Ganjar menjelaskan, sebenarnya dalam dua atau tiga tahun lalu dirinya sudah menyampaikan ide yang hampir sama dengan membebaskan guru di Jateng berkreasi dan berinovasi dalam hal pendidikan. Namun, ide tersebut belum bisa ditangkap dan direalisasikan sehingga belum optimal.

“Guru kita sebenarnya punya karya, tapi belum dioptimalkan. Memang, perubahan tidaklah mudah dilakukan. Para guru harus siap betul, agar tidak kaget dan kesulitan menerima perubahan,” pungkasnya.

1. Pemprov Siapkan Jateng Jadi Pilot Project Pendidikan Yang Revolusioner

Gubernur Ganjar Pranowo berdialog dengan seorang siswa SMAN 1 Semarang di Hari Guru Nasional, Senin (25/11).

Hari ini tepat 74 tahun, Hari Guru Nasional. Bahkan, dalam peringatan Hari Guru Nasional tahun ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dipimpin seorang menteri dari generasi milenial, Nadiem Makarim.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo merespon pidato Mendikbud Nadiem Makarim di Peringatan Hari Guru tahun ini, karena isi pidato yang ditulis dalam dua halaman itu cukup fenomenal dan menjadi viral dalam waktu hitungan jam.

Menurutnya, pidato yang singkat dan langsung itu langsung mengena pada poko persoalan.

Ganjar menjelaskan, Nadiem ingin membuat sebuah gebrakan baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Terutama, dalam hal pemberian perhatian kepada guru untuk berinovasi dan berkreasi. Guru-guru diminta membuat terobosan, dan menyiapkan siswanya sebelum terjun di masyarakat.

Oleh karena itu, dengan pidato dari Mendikbud Nadiem Makarim ini Jateng akan menjadi tempat uji coba pendidikan revolusioner.

“Sebenarnya, pidatonya menjadi sesuatu yang luar biasa karena belum banyak dibacakan sudah beredar. Pidatonya singkat, langsung mengena dan ini sebenarnya ciri-ciri kalau kita membaca mas menteri kita mau yang praktis. Ada harapan besar, memberikan ruang dan waktu yang lebih banyak kepada guru-guru untuk berinovasi dan berkreasi. Siswa-siswa ini diharapkan betul-betul punya pengalaman, punya pendidikan dan nantinya turun ke masyarakat menjadi siap,” kata Ganjar saat menjadi inspektur upacara Hari Guru Nasional di SMAN 1 Semarang, Senin (25/11).

Lebih lanjut Ganjar menjelaskan, sebenarnya dalam dua atau tiga tahun lalu dirinya sudah menyampaikan ide yang hampir sama dengan membebaskan guru di Jateng berkreasi dan berinovasi dalam hal pendidikan. Namun, ide tersebut belum bisa ditangkap dan direalisasikan sehingga belum optimal.

“Guru kita sebenarnya punya karya, tapi belum dioptimalkan. Memang, perubahan tidaklah mudah dilakukan. Para guru harus siap betul, agar tidak kaget dan kesulitan menerima perubahan,” pungkasnya.

2. Antisipasi Roboh, Pemprov Jateng Akan Pastikan Keamanan Gedung Sekolah

Gubernur Ganjar Pranowo mendapat bunga dari siswi SMAN 1 Semarang usai menjadi inspektur upacara Hari Guru Nasional, Senin (25/11).

Pemprov Jawa Tengah meminta kepada Dinas Pendidikan provinsi, untuk memastikan keamanan gedung-gedung sekolah yang ada di provinsi ini. Termasuk, meminta kepada para kepala sekolah untuk memeriksa kondisi sekolahnya dalam kondisi masih bagus.

Gubernur Ganjar Pranowo mengatakan menjelang musim hujan yang sebentar lagi akan merata di sejumlah daerah di Jateng, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng harus bisa tanggap terhadap kondisi bangunan sekolah. Terutama, sekolah-sekolah yang menjadi kewenangan dari Pemprov Jateng.

Ganjar menjelaskan, pihaknya sudah memerintahkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng untuk berkirim surat kepada kepala sekolah di Jateng. Isinya, untuk memastikan bangunan sekolah dalam kondisi baik.

Menurutnya, kepada juga harus proaktif untuk mengantisipasi jika ada bangunan sekolah yang rawan rusak.

“Saya tidak mau terus kemudian orang panik, atau orang menjadi repot. Jangan-jangan, memang beberapa kualitas tidak baik. Tapi, kalau sudah bencana siapa yang bisa memprediksi. Maka dicek, bangunan-bangunan kira-kira yang berpotensi bahaya. Akhirnya, kita melihat persoalan yang ada di Sragen menjadi menarik. Semua bergotong royong membantu,” kata Ganjar, kemarin.

Lebih lanjut Ganjar menjelaskan, perintah pengecekan bangunan sekolah tidak hanya sampai pada di bawah wewenang Pemprov Jateng. Namun, juga berlaku bagi tingkat SD dan SMP yang merupakan kewenangan dari kabupaten/kota.

“Saya tidak mau semua panik, ketika terjadi bencana ada sekolah roboh. Jangan-jangan memang pada saat membangun, kualitas bangunan sekolah kurang baik. Tapi kalau sudah bencana memang tidak bisa diprediksi,” jelasnya.

Diwartakan sebelumnya, bangunan aula SMKN 1 Miri di Kabupaten Sragen roboh setelah diterjang hujan deras pada Rabu 20 November 2019 kemarin. Akibat kejadian itu, sebanyak 22 siswa mengalami luka dan dilarikan ke rumah sakit. (Bud)

Artikel sebelumnyaMenuju Data Tunggal Kependudukan Nasional, Upaya Apa yang Terus Dilakukan Pemerintah?
Artikel selanjutnyaPemprov Jateng Minta Warga Terdekat Merapi Jaga Jarak Dalam Radius 3 Km

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini