Bagaimana Media Mainstream Memanfaatkan Momentum dan Mengambil Peran di Tengah Keterpurukan karena Disrupsi Digital?

Semarang, Idola 92.6 FM-Setiap hal, eksis karena nilai atau value-nya. Maka, selama sebuah usaha tetap menghasilkan nilai yang diperlukan maka keberadaannya masih akan “long lasting”. Begitu juga dengan media mainstream yang semula diperkirakan bakal tergerus keberadaannya oleh munculnya media sosial.Sampai pada kasus terkini—di mana perusahaan besar global memutuskan menghentikan sementara kerja sama iklan dengan facebook.

Sistem algoritma yang menjadi keunggulan komparatif media sosial dibandingkan media konvensional, kini menjadi titik lemah karena ketidak mampuan platform media sosial menghentikan hoaks dan ujaran kebencian.

Ini menjadi momentum bagi media konvensional untuk mengambil peran baik dalam menyediakan informasi maupun bangkit dari keterpurukan karena disrupsi digital. Maka, masihkah ada nilai yang dihasilkan oleh media mainstream di era disrupsi digital? Bagaimana media mainstream memanfaatkan momentum dan mengambil peran di tengah masifnya serbuan hoaks dan ujaran kebencian di platform media sosial?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber yakni: Pengamat Media dan Masyarakat FISIP Undip SemarangTriyono Lukmantoro dan Anggota Dewan Pers Ahmad Djauhar. (her)

https://anchor.fm/radio-idola/episodes/wawancara-bersama-Anggota-Dewan-Pers-Ahmad-Djauhar-eg89q4

https://anchor.fm/radio-idola/episodes/wawancara-bersama-Pengamat-Media-dan-Masyarakat-FISIP-Undip-Semarang–Triyono-Lukmantoro-eg89ga

Artikel sebelumnyaBagaimana Memperkuat Penjagaan Kemanan Laut Indonesia?
Artikel selanjutnyaBagaimana Memanfaatkan Momentum ‘bergairahnya Riset dan Inovasi’ untuk menggeser paradigma: bahwa RISET bukanlah Liabilities atau beban biaya, melainkan investasi untuk Assets bangsa