Refleksi 2020 dan Tantangan 2021 di Bidang Sosial dan Kebangsaan

Past and Future

Semarang, Idola 92.6 FM – Indonesia menjadi rumah bagi lebih dari 260 juta jiwa lebih orang dengan keragaman ras, suku bangsa, budaya, adat istiadat, tingkat pendidikan, ekonomi, dan polemik politik yang tidak berkesudahan. Walaupun beragam, hingga kini Indonesia tetap berdiri dengan harmoni kesatuan. Hal itu karena salah satunya ditopang kuatnya segenap elemen dalam memegang teguh spirit kebangsaan.

Namun saat ini, kita dihadapkan dengan sejumlah persoalan mengenai paham kebangsaan kita. Beberapa di antaranya primordialisme sempit, kesukuan, kedaerahan, dan disintegrasi bangsa. Bahkan muncul pula gerakan trans-nasional yang mengarah pada pembentukan negara khilafah.

Kini di tengah Pandemi, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) menilai, paham kebangsaan kita turut merosot. Ketahanan Nasional melemah. Pandemi turut memengaruhi ketahanan nasional bangsa. Selain itu, politik identitas menguat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara belakangan ini.

2020-2021
(Ilustrasi: kiranshaw)

Hal itu disampaikan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Letjen (Purn) Agus Widjojo saat refleksi akhir tahun dan harapan tahun depan beberapa waktu lalu. Menurutnya, kemerosotan pemahaman kebangsaan merupakan tantangan lain di luar Pandemi. Kemerosotan itu, di antaranya, ditandai dengan menguatnya politik identitas, seakan di atas kepentingan nasional dan persatuan bangsa. Karena itu, identitas dan karakter kuat dan pemahaman sejarah dan warisan budaya, menjadi perekat. Tantangan tersebut harus dihadapi dengan menguatkan jati diri sebagai bangsa Indonesia.

Merefleksi tahun 2020 dan menatap tantangan tahun 2021 di Bidang Sosial dan Kebangsaan, bagaimana upaya menguatkan ketahanan nasional kita? Jika Pandemi memicu kemerosotan paham kebangsaan kita, bagaimana jalan keluar memperbaiki kondisi itu?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Letnan Jenderal (Purn) Agus Widjojo (Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas)); Prof Muradi (Pengamat politik sekaligus Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran Bandung); dan A. Setyo Wibowo SJ (Dosen Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta). (andi odang/her)

Dengarkan podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaMengenal Sikat Gigi “Katamataku Easy Brush” Kreasi Tim UI bagi Penderita Kusta
Artikel selanjutnyaCegah Terorisme, Kesbangpol Jateng Terus Galakkan Program Deradikalisasi