Mengenal Muhammad Sarip, Pegiat Sejarah Kalimantan Timur dari Samarinda

Muhammad Sarip
Muhammad Sarip Pegiat Sejarah Kalimantan Timur dari Samarinda. (Photo dok Sarip)

Samarinda, Idola 92.6 FM – Jatuh cinta pada sejarah sejak duduk di bangku SD. Dari membaca buku-buku fiksi, buku yang bercerita tentang kerajaan koleksi milik kakeknya. Inilah langkah awal Muhammad Sarip tertarik dengan sejarah.

Banyak cerita yang dituturkan oleh Muhammad Sarip, pegiat sejarah Kalimantan Timur dari Samarinda. Berkat menekuni sejarah di wilayah Kalimantan Timur, mengantarkannya pada perjumpaan pada jaringan pertemanan dengan peneliti, pegiat sejarah, petugas perpustakaan, hingga pengarsip.

Hingga kini, editor perbitan tersebut sudah menulis empat buku serta dua buku yang ditulis bersama koleganya. Semuanya berkaitan dengan sejarah lokal. Kesukaan Sarip terhadap sejarah mengantarkannya menjadi narasumber seminar sejarah yang diselenggarakan kementerian hingga pemerintah daerah.

Buku karya Muhammad Sarip
Buku karya Muhammad Sarip Pegiat Sejarah Kalimantan Timur dari Samarinda. (Photo dok Sarip)

Seiring berjalannya waktu, aktivitas Sarip terdengar di mana-mana. Seorang pria berdarah Belanda yang sudah menjadi WNI tiba-tiba datang ke tempat kerja Sarip. Pria itu mendatangi Sarip dan tertarik dengan sejarah. Tak hanya itu, pria ini memiliki banyak naskah kuno dan senang mengarsip. Pria ini mempersilakan Sarip untuk menulis/mengarsipnya.

Kerja keras dan kecintaannya pada sejarah lokal sejarah Kalimantan Timur, mengantarkannya menerima Sertifikat Kompetensi Bidang Sejarah dari Kemdikbud-BNSP.

Dalam aktivitasnya, Sarip juga aktif dalam beberapa organisasi. Di antaranya Pengurus Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (2014-sekarang) dan Pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Kalimantan Timur.

Beberapa karya buku bertema sejarah, antara lain: Sejarah Sungai Mahakam di Samarinda (2016), Samarinda Tempo Doeloe Sejarah Lokal 1200-1999 (2017), Perempuan di Kalimantan Timur Tempo Doeloe (ditulis bersama Nabila Nandini, 2019), dan Kerajaan Martapura dalam Literasi Sejarah Kutai 400-1635 (2021).

Selengkapnya, mengenal aktivitas pegiat sejarah Kalimantan Timur dari Samarinda, berikut ini wawancara radio Idola Semarang bersama Muhammad Sarip. (yes/her)

Simak podcast wawancaranya:

Artikel sebelumnyaPenyelenggaraan Pemilu, Antara Serentak dan Dipisah: Apa Plus Minusnya?
Artikel selanjutnyaSekda Minta ASN Upgrade Diri Sesuai Perkembangan Teknologi

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini