Ngobrol Perkembangan Vaksin Merah Putih bersama Prof Amin Soebandrio

Prof Amin Soebandrio
Prof Amin Soebandrio, Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman. (photo/lokadata)

Jakarta, Idola 92.6 FM – Di tengah pandemi Covid-19 yang masih melanda dunia, Indonesia sedang membutuhkan banyak stok vaksin untuk meningkatkan imun agar terwujud herd immunity atau kekebalan kelompok. Namun dalam beberapa hari terakhir, sejumlah daerah justru mulai kehabisan stok vaksin sehingga penyuntikkan vaksin dosis 2 sebagian masih ditunda. Tak terkecuali di Kota Semarang.

Selama ini, vaksin antivirus corona yang disuntikkan ke warga adalah vaksin yang didatangkan dari luar negeri alias impor. Ada Sinovac, Astrazeneca sampai Moderna.

Vaksin Merah Putih
ilustrasi/istimewa

Mengapa harus impor? Karena vaksin buatan dalam negeri hingga saat ini masih dalam proses. Masih menunggu perkembangan tahapan pembuatan vaksin merah putih. Jika tak ada aral melintang, vaksin Covid-19 “merah putih” buatan dalam negeri itu, diklaim bisa diuji klinis pada akhir tahun 2021.

Lalu butuh berapa lama (waktu) pembuatan vaksin, biaya dan hambatan selama proses pembuatan vaksin ini berlangsung. Selengkapnya, berikut ini wawancara radio Idola Semarang bersama Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Prof Amin Soebandrio. (yes/ her)

Dengarkan podcast wawancaranya:

Artikel sebelumnyaPemprov Santuni Warga Kurang Mampu Lewat KJS
Artikel selanjutnyaMenakar Wacana Amendemen UUD 1945, Seberapa Mendesakkah?

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini