Perbankan Masih Mampu Dorong Pertumbuhan Kredit

Aman Santosa
Aman Santosa, Kepala OJK Kanreg 3 Jateng-DIY.

Semarang, Idola 92,6 FM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional 3 Jawa Tengah-Yogyakarta memberikan apresiasi kepada perbankan umum dan juga BPR, karena masih mampu mendorong pertumbuhan kredit di masa pandemi. Bahkan, juga mampu mendukung kebangkitan UMKM di Jateng.

Kepala OJK Kanreg 3 Jateng-DIY Aman Santosa mengatakan antara perbankan umum dan juga BPR, ternyata mampu mengakselerasi penyaluran kridit bagi pelaku UMKM. Pernyataan itu dikatakannya dalam sesi webinar dengan tema “Potensi dan Prospek Ekonomi UMKM Jawa Tengah di Masa Pandemi COVID-19”, belum lama ini.

Aman menjelaskan, pihaknya terus berupaya menjaga stabilitas kinerja BPR di masa pandemi. Sehingga, pihak perbankan umum dan juga BPR tetap mampu mendukung pertumbuhan kredit di Jateng.

Menurutnya, OJK juga telah memperpanjang masa berlaku kebijakan bagi BPR/BPRS hingga 31 Maret 2022 tentang relaksasi.

“Perbankan masih aktif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, walaupun tidak bisa mengangkat sampai di atas O persen. Tetapi paling tidak, perbankan dan BPR masih bisa menumbuhkan kredit pada angka 2,01 persen secara yoy. Untuk industri BPR pertumbuhan itu ternyata BPR menyumbang pertumbuhan sampai 4,69 persen, sementara yang bank umum itu hanya 1,75 persen,” kata Aman.

Aman lebih lanjut menjelaskan, dalam mendorong perluasan akses kredit bagi pelaku UMKM pihaknya juga menjalin kerja sama dengan Dinas Koperasi dan UMKM Jateng. Salah satunya, melalui fasilitasi business matching klaster UMKM unggulan yang ada di 17 kabupaten/kota di Jateng.

“Bagi yang punya orientasi ekspor, kami bersama Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Tengah melalui business matching klaster memberikan pendampingan. Bahkan, saat ini kami juga memberikan fasilitasi lewat aplikasi UMKM-MU dan telah mendukung pemasaran 353 produk UMKM,” pungkasnya. (Bud)

Artikel sebelumnyaPolisi Tangkap Tersangka Perampas Uang Setoran Toko Emas
Artikel selanjutnyaAntara Integritas, Sistem, dan Tabiat Kekuasaan, Apa Yang Membuat Kasus Korupsi Sulit Berhenti?