Arkeolog Hari Suroto Dukung Upaya Membatasi Pengunjung untuk Melindungi Candi Borobudur

Hari Suroto
Hari Suroto Peneliti Arkeologi Badan Riset dan Inovasi Nasional.(Photo dok Hari)

Magelang, Idola 92.6 FM – Rencana pemerintah yang akan menaikkan tarif naik ke Candi Borobudur memicu polemik. Satu pihak yang pro menilai, konservasi penting dilakukan untuk melindungi dan memperpanjang usia candi. Dan mereka yang kontra menilai, kenaikan tarif yang terlalu tinggi, akan berdampak bagi sektor Pariwisata.

Terlepas dari polemik itu, Peneliti Arkeologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Hari Suroto menyatakan, mendukung langkah Pemerintah yang akan membatasi masyarakat untuk naik ke candi dengan menaikkan tiket. Sebab, Candi Borobudur adalah warisan cagar budaya bernilai tinggi yang harus dilindungi dan dilestarikan.

“Pro kontra pasti ada terkait dengan kenaikan tiket, yang memang tujuanya untuk melindungi Candi Borobudur,” kata Hari kepada radio Idola Semarang, Selasa (07/06).

Konsep Wisata Berkelanjutan

Candi Borobudur
Candi Borobudur. (photo/istimewa)

Menurut Hari, konsep wisata yang harus diterapkan di Candi Borobudur adalah wisata berkelanjutan, hal ini sejalan dengan konservasi cagar budaya warisan dunia UNESCO.

“Tiket yang mahal merupakan ciri dari wisata minat khusus, hal ini juga diterapkan pada Raja Ampat,” ujar Hari.

Dikatakan Hari, konsep wisata minat khusus diterapkan di Raja Ampat karena beberapa wilayah perairan Raja Ampat menjadi daerah konservasi. Raja Ampat tidak menerapkan konsep wisata massal (mass tourism) yang beroientasi pada wisata yang dilakukan secara beramai-ramai dalam jumlah banyak (rombongan).

Ia melanjutkan, harga paket wisata ke Raja Ampat tidak murah. Harga paket wisata Raja Ampat berada pada kisaran Rp 8 juta per orang. Hal ini membuat sebagian masyarakat yang ingin berwisata ke Raja Ampat mengurungkan niatnya karena harga paket wisatanya mahal.

“Pariwisata Raja Ampat memiliki kualitas tinggi begitu juga wisata di Candi Borobudur. Borobudur dan Raja Ampat merupakan destinasi wisata terbaik di Indonesia,” tutur Hari yang cukup lama bekerja di wilayah Papua.

Candi Borobudur dan Gus Lascauz

Hari menjelaskan, kasus Candi Borobudur hampir sama dengan Gua Lascaux di Perancis. Gua Lascaux merupakan warisan dunia UNESCO. Gua Lascaux di Perancis terkenal sebagai situs prasejarah karena memiliki seni prasejarah tertua dan terbaik di dunia. Namun, gua Lascaux ditutup sejak tahun 1963 lantaran kerusakan akibat pariwisata. Kini pemerintah Perancis meresmikan gua tiruan yang terletak di sebuah desa tak jauh dari kompleks Gua Lascaux.

Raja Ampat
Raja Ampat. (photo/istimewa)

“Yang paling ideal untuk diterapkan di Candi Borobudur adalah apa yang diterapkan di Gua Lascaux,” kata Hari.

Tetapi untuk saat ini, lanjut Hari, yang dilakukan pemerintah di Candi Borobudur seperti apa yang diterapkan di Raja Ampat. Rp 750 ribu per orang itu bukanlah tiket masuk Candi Borobudur. Itu merupakan tiket naik ke candi yang fungsinya sama dengan wisata minat khusus di Raja Ampat, membatasi jumlah pengunjung sehingga Candi Borobudur sebagai cagar budaya tetap lestari.

Raja Ampat menjauhi mass tourism, harga paket wisata untuk 8 atau 10 orang dalam satu grup adalah sekitar 4 juta sampai 5 juta per orang. Dengan harga ini, wisatawan bisa berlibur ke Raja Ampay selama 4 hari 3 malam.

“Tetapi itu tergantung juga tujuan. Semakin jauh rute dan tempat yang akan diambil, maka semakin mahal. Harga ini juga belum termasuk tiket pesawat dari Jakarta ke Sorong,” ujarnya.

Batu kelamin
Foto batu kelamin laki-laki di Kampung Lopintol, Distrik Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. (Photo dok Hari)

Raja Ampat merupakan surga bagi para penikmat wisata dalam air. Raja Ampat memiliki 537 jenis terumbu karang keras. Kalau wisatawan turun dalam satu spot menyelam, wisatawan dapat melihat banyak sekali ikan dan koral. Menikmati indahnya perairan Raja Ampat dapat dilakukan dengan snorkeling dan diving.

Kepulauan Raja Ampat terletak di jantung pusat segitiga karang dunia (coral triangle) dan merupakan pusat keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia. Raja Ampat dan Candi Borobudur harus dilestarikan.

Ke depan, sebagai upaya mengenalkan Candi Borobudur ke publik. Hari berpendapat, bisa dibuat tiruan candi Borobudur dalam bentuk bangunan virtual dengan memanfaatkan teknologi digital. Sehingga, tidak perlu membangun candi tiruan secara fisik. Candi virtual yang dapat disaksikan dalam ruang audiovisual.

“Bisa dikunjungi secara virtual dari rumah. Candi Borobudur virtual juga dapat di tampilkan dalam Metaverse,” tandas Hari. (har/yes/her)

Artikel sebelumnyaBPJS Kesehatan Kenalkan Aplikasi Mobile JKN ke Pegawai Pajak
Artikel selanjutnyaBI dan Pemprov Jateng Upayakan Percepatan Pembangunan Berkelanjutan
Editor In Chief Radio Idola Semarang.