Bagaimana Mendorong Kesadaran Publik atas Krisis serta Beragam Ancaman Bencana di Indonesia?

Merefleksi Isu Lingkungan dan Kebencanaan tahun 2022

Bencana Alam
Ilustrasi/ISTIMEWA

Semarang, Idola 92.6 FM – Rentetan bencana alam datang bertubi-tubi dalam beberapa bulan belakangan. Banjir, longsor, pohon tumbang, hingga puting beliung melanda berbagai daerah di Indonesia sepanjang pertengahan hingga akhir tahun ini. Bencana itu tak mengenal lokasi—dan tersebar mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, serta daerah lain.

Akibat dari bencana yang bertubi-tubi tersebut, korban jiwa berjatuhan, puluhan ribu orang mengungsi, dan belum lagi kerusakan serta kerugian materiil yang ditimbulkannya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sepanjang tahun 2022 ini telah terjadi sebanyak 3.300 bencana di Indonesia. BNPB menyebut, di Indonesia terdapat kurang lebih 13 jenis bencana. Namun, bencana yang paling banyak terjadi adalah bencana banjir dengan jumlah lebih dari 1.400 kejadian. Selain itu, bencana terkini yang juga berdampak hebat yakni erupsi di Lumajang dan gempa di Cianjur Jawa Barat.

Ancaman potensi bencana itu ternyata tak hanya sampai di sini. Pada tahun 2023 mendatang, BNPB memperkirakan akan ada lagi satu jenis bencana alam yang perlu diwaspadai, yakni kebakaran hutan dan lahan, mengingat tahun 2023 diprediksi cuacanya akan lebih kering jika dibanding 3 tahun terakhir.

Rentetan bencana alam yang terjadi di Indonesia sepanjang 2022 ini menjadi bukti nyata, bahwa negara dalam status darurat ekologis. Kondisi ini menunjukkan daya dukung lingkungan yang semakin menurun akibat kerusakan alam yang terjadi karena ulah manusia. Hal itu diperparah dengan dampak dari perubahan iklim.

Melihat banyaknya bencana yang kerap terjadi, menandakan semakin mendesaknya pemahaman masyarakat dalam berdampingan dan meminimalisir dampaknya.

Maka, merefleksi tahun 2022, bagaimana mendorong kesadaran publik atas krisis ancaman bencana yang sewaktu-waktu mengancam kita? Bagaimana cara mengedukasi masyarakat atas pentingnya budaya tangguh atau resilien terhadap bencana?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber: Tata Mustaya (Kepala Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia), Bergas C. Penanggungan,S.Sos, M.Si (Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah), dan Zuly Qodir (Sosiolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). (her/yes/ao)

Simak podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaKPK Ajak Seluruh Sekolah Tanamkan Nilai Anti Korupsi Sejak Dini
Artikel selanjutnyaMengenal Drg Ika Dewi Ana, Peneliti UGM dan Penemu Vaksin ala Koyo
Editor In Chief Radio Idola Semarang.