Mengenal Drg Ika Dewi Ana, Peneliti UGM dan Penemu Vaksin ala Koyo

Drg Ika Dewi Ana
Drg Ika Dewi Ana, Peneliti dan dosen Fakultas Kedokteran Gigi di UGM Yogyakarta. Ika berinovasi membuat “vaksin tak perlu disuntik cukup ditempel seperti koyo” dan peraih penghargaan Habibie Prize 2022. (Photo/Jawapos)

Yogyakarta, Idola 92.6 FM – Bagi sebagian orang, jarum suntik menjadi sesuatu yang menakutkan. Bahkan, ada yang fobia dengan jarum suntik. Hal itu menginspirasi seorang dokter yang juga peneliti di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta untuk mengembangkan vaksinasi tanpa jarum suntik. Namun, ditempel seperti koyo. Sehingga tak perlu menggunakan jarum.

Sosok itu adalah Drg Ika Dewi Ana, peneliti dan dosen Fakultas Kedokteran Gigi di UGM Yogyakarta yang melakukan inovasi vaksin tak perlu disuntik cukup ditempel seperti koyo. “Nanti vaksin itu bisa ditempel seperti koyo gitu, dan itu berlaku kepada vaksin apa saja. Semua vaksin dari protein, mirna, saat ini kita cobakan untuk arah itu,”tutur Ika kepada radio Idola, pagi (15/12) tadi.

Ika tak sendirian dalam mengembangkan inovasi ini. Ia melibatkan rekan peneliti lainnya.”Harus ada kerja sama antar keahlian, kita tidak bisa bekerja sendiri,”ungkap Ika mengapa harus melibatkan peneliti lain dalam berinovasi.

Sebelumnya Ika juga telah melakukan inovasi. Dilansir dari situs https://ugm.ac.id Ika Dewi Ana merupakan dosen di Departemen Ilmu Biomedika Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi UGM. Dua karya penelitiannya, yaitu CHA Bone Graft dan CHA-based Hemostatic Sponge, telah terdaftar dan dipasarkan di Indonesia. Dua karya lainnya sedang dalam proses translasi, salah satunya membran untuk operasi dentokraniofasial. Rekam jejaknya dalam bidang penelitian didokumentasikan dalam buku Biokeramik dan Rekayasa Jaringan yang diterbitkan pada tahun 2021.

Lalu sejauh mana inovasi “vaksin tak perlu disuntik cukup ditempel seperti koyo”? Kapan masyarakat umum bisa memanfaatkannya?

Selengkapnya, berikut ini wawancara radio Idola Semarang bersama Drg Ika Dewi Ana, peneliti dan Dosen Fakultas Kedokteran Gigi UGM Yogyakarta yang melakukan inovasi “vaksin tak perlu disuntik cukup ditempel seperti koyo” dan peraih penghargaan Habibie Prize 2022. (yes/her)

Simak podcast wawancaranya:

Artikel sebelumnyaBagaimana Mendorong Kesadaran Publik atas Krisis serta Beragam Ancaman Bencana di Indonesia?
Artikel selanjutnyaDiduga Palsu, Pisau Cukur Impor Ditahan Bea Cukai
Jurnalis senior dan gate keeper Radio Idola Semarang