Ekonomi Jateng Tumbuh Melambat di Triwulan III 2022

Kepala BPS Jateng Adhi Wiriana
Kepala BPS Jateng Adhi Wiriana memberi penjelasan soal pertumbuhan ekonomi Jateng.

Semarang, Idola 92,6 FM – BPS Jawa Tengah mencatat, perekonomian provinsi ini pada triwulan III 2022 tumbuh melambat sebesar 5,28 persen, bila dibanding capaian pada triwulan II kemarin yang tumbuh 5,66 persen. Pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha transportasi dan perdagangan, yang tumbuh sebesar 98,53 persen.

Kepala BPS Jateng Adhi Wiriana mengatakan perekonomian di provinsi ini pada triwulan III 2022 berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp396.643,77 miliar. Sementara atas dasar harga konstan 2010, mencapai Rp264.962,50 miliar. Pernyataan itu dikatakan melalui siaran pers secara virtual, kemarin.

Adhi menjelaskan, secara kuartal ekonomi Jateng di triwulan III 2022 tumbuh sebesar 1,32 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha konstruksi yang tumbuh sebesar 13,13 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, komponen yang mengalami kenaikan tertinggi adalah pembentukan modal tetap bruto sebesar 11,22 persen.

Menurutnya, secara kumulatif sampai dengan triwulan III 2022 tercatat tumbuh positif sebesar 5,36 persen. Sementara dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha transportasi dan pergudangan.

“Memang ekonomi relatif sudah membaik jika dibandingkan pada saat terjadinya pandemi Covid. Angka-angka pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan III 2022, ternyata peningkatan tetap terjadi secara q to q dengan triwulan II 2022 atau triwulan ke triwulan peningkatannya sebesar 1,32 persen. Kondisi triwulan III 2022 terjadi peningkatan, tetapi peningkatannya tidak sebesar sebagaimana terjadi pada peningkatan triwulan ke triwulan di 2022,” kata Adhi.

Lebih lanjut Adhi menjelaskan, usaha pertanian dan kehutanan serta perikanan merupakan lapangan usaha dominan kedua yang mengalami kontraksi sebesar 9,87 persen. Selain lapangan usaha pertanian dan kehutanan serta perikanan, masih ada dua lapangan usaha lain yang mengalami kontaksi.

“Konstraksi terdalam terjadi pada usaha pertambangan dan penggalian. Kemudian disusul lapangan usaha pengadaan air, pengelolaam sampah dan limbah serta daur ulang yang terkonstraksi sebesar -3,24 persen,” pungkasnya. (Bud)

Artikel sebelumnyaMenyoroti Kasus Lukas Enembe, Mestikah Ketua KPK “Turun Gunung” Menemani Tim Penyidik?
Artikel selanjutnyaPengangguran di Jateng Banyak Terserap Sektor Pertanian
Wartawan senior Radio Idola Semarang.