Mengenal Bahaya Efek Gas Air Mata bersama Prof Fredy Kurniawan ITS

Prof Fredy Kurniawan
Kepala Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Prof Fredy Kurniawan. (Photok dok Fredy)

Malang, Idola 92.6 FM – Penggunaan gas air mata dituding sebagai biang kematian ratusan orang dalam tragedi Kanjuruhan Malang. Dalam kerusuhan di stadion Kanjuruhan Malang Jawa Timur, Sabtu Malam, 1 Oktober 2022, sebanyak 448 orang menjadi korban. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyatakan dari 448 orang korban sebanyak 125 orang meninggal dunia, 21 luka berat, dan 302 luka ringan.

Banyaknya jumlah korban dalam kerusuhan tersebut diduga karena korban terkena gas air mata yang ditembakkan atau diaktifkan ketika kerusuhan terjadi.

Menurut Kepala Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Prof Fredy Kurniawan, macamnya gas air mata itu banyak. ”Mungkin sekitar 15 macam gas air mata,” jelas Fredy kepada radio Idola, pagi (04/10) tadi.

Kerusuhan Kanjuruhan
Gas air mata terlihat di stadion Kanjuruhan Malang usai pertandingan AREMA vs PERSEBAYA pada Sabtu Malam, 1 Oktober 2022. Dalam kerusuhan ini, sebanyak 125 orang meninggal dunia. (Photo/BeritaSatu)

Namanya gas air mata. Jadi nomor satu digunakan untuk menyerang mata. Dampaknya menurut Fredy, dalam waktu 20 detik, mata yang terkena akan mengeluarkan air mata dengan deras. ”Dan kalau dibuka matanya, akan membuat mata iritasi. Karena ini bahan kimia berbahaya, ini ada toxicnya,” tambah Fredy.

Lalu, apa saja sebenarnya kandungan yang ada dalam gas air mata sehingga berbahaya bagi yang terkena? Apa yang harus dilakukan seseorang jika terlanjur terkena gas air mata? Bagaimana cara penanganannya?

Selengkapnya, mengenal gas air mata dan bahayanya, berikut ini wawancara radio Idola Semarang bersama Prof Fredy Kurniawan, Kepala Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. (yes/her)

Simak podcast wawancaranya:

Artikel sebelumnyaApa Kabar RUU Perampasan Aset Tindak Pidana?
Artikel selanjutnyaPemkot Semarang Dorong Swasta Berikan Ruang Bagi Pelaku UMKM Penyandang Disabilitas Berkarya
Jurnalis senior dan gate keeper Radio Idola Semarang