Tanah Gerak di Tegal. (photo/indoraya)

Semarang, Idola 92,6 FM-Dinas ESDM Jawa Tengah menyebut, hasil investigasi dan kajian tim teknis menunjukkan bahwa lapisan tanah di wilayah terdampak didominasi material lempung (clay) yang memiliki karakter mudah menyerap air namun sulit melepaskannya.

Kondisi tersebut diperparah kemiringan lereng, sehingga tanah bergerak perlahan namun terus-menerus.

Kepala Dinas ESDM Jateng Agus Sugiharto mengatakan bencana tanah gerak yang terjadi di Kabupaten Tegal, disebabkan fenomena geologi yang dikenal sebagai creeping atau rayapan tanah. Hal itu dikatakan saat ditemui di Semarang, Senin (9/2).

Agus menjelaskan, fenomena serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain di Jateng seperti Watukumpul (Pemalang), Simo (Boyolali) hingga beberapa kawasan di Kota Semarang seperti Gombel, Kali Pancur dan Manyaran.

Kesamaan daerah-daerah tersebut, terletak pada ketebalan lapisan lempung dan adanya kemiringan lereng.

“Creeping berbeda dengan likuifaksi. Likuifaksi dapat terjadi di wilayah datar akibat perubahan struktur tanah dan kadar air tinggi, sementara rayapan tanah hanya terjadi di daerah yang memiliki kemiringan. Kalau creeping pasti ada lereng atau tebing. Itu syarat utamanya,” kata Agus.

Menurut Agus, dampak bencana tanah gerak di Kabupaten Tegal dilaporkan cukup serius.

Infrastruktur seperti jalan dan jembatan mengalami kerusakan parah, dan bahkan, jembatan besi dengan pondasi besar dilaporkan bergeser hingga tidak bisa digunakan sama sekali.

“Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menyiapkan solusi relokasi bagi warga yang rumahnya tidak lagi aman untuk dihuni. Dua lokasi lahan milik Perhutani di wilayah Tegal telah disiapkan sebagai calon hunian tetap,” jelasnya.

Lebih lanjut Agus mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana, terutama di wilayah rawan.

Selain faktor alam, tata kelola lingkungan seperti sistem drainase yang buruk dan masuknya air berlebihan ke dalam tanah turut menjadi pemicu pergerakan tanah.

“Kalau air terus masuk ke tanah lempung, ikatan antar-butirnya melemah. Akhirnya tanah jadi seperti bubur dan mudah bergerak,” pungkasnya. (Bud)