
Semarang, Idola 92,6 FM-Kementerian Koordinasi Bidang Pangan menyebut, posisi ketahanan pangan Indonesia di kawasan ASEAN, masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga.
Berdasarkan pemeringkatan regional, Indonesia berada di urutan keempat setelah Singapura, Malaysia, dan Vietnam.
Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Tanaman Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Kus Priseyiahadi mengatakan sebelumnya, Singapura dan Malaysia serta Vietnam banyak belajar dari Indonesia dalam sektor pertanian. Hal itu disampaikan dalam kegiatan peluncuran Buku Pedoman Implementasi Model Bisnis Pertanian Berkelanjutan Berbasis Climate Smart Agriculture (CSA)–Biochar di Hotel Padma Semarang yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Senin (9/2).
Kus menjelaskan, peningkatan produktivitas pertanian menjadi kunci utama untuk memerkuat kemandirian dan kedaulatan pangan nasional.
“Ini menjadi tantangan besar bagi kita. Indonesia masih kalah dalam hal produktivitas, khususnya tanaman pangan seperti padi,” kata Kus.
Menurut Kus, produktivitas padi nasional saat ini rerata masih sekira lima ton per hektare dan jauh tertinggal dibandingkan Vietnam dan Malaysia yang mampu mencapai hingga 10 ton per hektare.
Kesenjangan ini, berdampak langsung pada daya saing dan kesejahteraan petani.
“Kalau produktivitas bisa ditingkatkan dari 5 ton menjadi 7, 9, bahkan 10 ton per hektare, maka secara sistemik kesejahteraan petani juga akan meningkat,” jelasnya.
Lebih lanjut Kus menjelaskan, berdasarkan standar FAO, pemenuhan kebutuhan pangan sebesar 90 persen sudah dapat dikategorikan sebagai swasembada.
Bahkan, Indonesia saat ini telah melampaui angka tersebut.
“Cadangan pangan di hulu tersedia, produksi gabah juga melebihi kebutuhan. Artinya, secara nasional kita sudah mencukupi,” imbuhnya.
Kus menekankan pentingnya inovasi pertanian berkelanjutan, salah satunya melalui penerapan Climate Smart Agriculture (CSA) yang didukung teknologi biochar.
“Biochar mampu memperbaiki kualitas tanah, meningkatkan daya simpan air, mengefisienkan pemupukan, serta menurunkan emisi gas rumah kaca,” pungkasnya. (Bud)














