Banjir Grobogan. (photo/jpnn)

Semarang, Idola 92.6 FM-Bulan Ramadan sejatinya adalah ruang perenungan. Sebulan penuh umat Islam diajak menahan diri, menata ulang relasi—bukan hanya dengan Tuhan tetapi juga dengan sesama manusia dan alam semesta.

Namun Ramadan tahun ini, bagi sebagian saudara-saudara kita, datang dalam suasana yang berbeda. Bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga tetapi juga menghadapi kenyataan pahit: rumah yang terendam, lahan pertanian yang rusak, akses jalan yang terputus hingga kehidupan yang harus dijalani dari pengungsian.

Dalam beberapa waktu terakhir, bencana hidrometeorologi kembali melanda berbagai wilayah di Jawa Tengah dan daerah lain di Indonesia. Banjir, tanah longsor, hingga pergerakan tanah menjadi peristiwa yang berulang—seolah mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang belum beres dalam cara kita memperlakukan alam dan mengelola ruang hidup.

Lalu pertanyaannya, apakah bencana-bencana ini semata peristiwa alam? Ataukah ada faktor lain yang ikut menyumbang—mulai dari tata kelola lingkungan, pembangunan wilayah, hingga kebijakan yang kurang berpihak pada keberlanjutan?

Di momen Ramadan ini, kami mengajak Anda untuk berhenti sejenak dan merenung: apa yang patut kita renungkan dan apa yang mesti kita perbaiki ke depan dalam upaya menjaga relasi dengan alam?

Untuk mengurai persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber: Bergas C. Penanggungan (Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah) dan Dr Mila Karmila (Pakar Lingkungan dan Tata Kota Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang). (her/yes/dav)

Simak podcast diskusinya: