Tak Terawat, Shelter Trans Semarang Disorot

Shelter Simpang Lima (photo: adriansyahyassin)

IdolaFM, Semarang – Pelayanan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang terus mendapat sorotan dari berbagai kalangan. Kondisi shelter yang rusak dan tak terawat diharapkan segera dibenahi.

BRT yang digadang-gadang menjadi sarana angkutan umum andalan kota semarang hingga kini masih menyisakan sekelumit persoalan. Salah satunya terkait kondisi shelter atau halte BRT yang masih ala kadarnya dan belum memenuhi standar kenyamanan. Selain itu, kondisi beberapa shalter tidak terawat, bahkan cenderung rusak menjadi cermin ketidakseriusan Pemeritah Kota Semarang dalam membenahi sarana dan prasarana umum di kota lumpia ini.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang Suharsono menyatakan, melihat kondisi sebagian besar shelter yang tidak terawat itu menjadi bukti ketidakseriusan pengelola. Menurutnya jika kondisi ini berlarut-larut akan mengakibatkan ketidaknyamanan calon penumpang BRT.

Meski demikian, dia mengakui sebagian shelter sudah memenuhi kelayakan dan kenyamanan penumpang meskipun ada yang harus dibenahi. Pihaknya berharap, selama tahun 2015 ini, kondisi sebagian shalter di 4 koridor yang masih belum layak segera dibenahi. “Sehingga, dapat memenuhi standar layak, nyaman, aman dan memiliki unsur estetika,” kata politisi Partai Keadilan Sejahtera ini kepada IdolaFM baru-baru ini.

Agus Harmunanto (photo: beritajateng)
Agus Harmunanto (photo: beritajateng)

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Semarang Agus Harmunanto, menyatakan, selama ini kendala utama dalam perbaikan dan perawatan sarana dan prasarana umum shelter BRT adalah anggaran yang terbatas. Namun demikian, pihaknya terus berupaya memperbaiki secara bertahap shelter-shelter yang kurang baik tersebut.

Dia mengungkapkan, kondisi sebagian shelter yang kurang baik itu yakni pada shelter yang bersifat tidak permanen atau portabel. “Ke depan rencananya shelter-shelter portabel tersebut akan dipermanenkan,” ujar dia. Dia memaparkan, untuk membuat shelter permanen selain memerlukan anggaran, juga perlu dipetakan kepastian lokasi strategis penempatan shelter portable itu.

Keberadaan BRT atau Bus Rapid Transit Trans Semarang, membawa perubahan sarana transportasi massal di Kota semarang. Namun, hal itu mesti dibarengi peningkatan pelayanan, serta yang tak kalah penting yakni membenahi dan merawat secara berkala sarana prasarana penunjang seperti shelter BRT. Ini demi peningkatan pelayanan dan kenyamanan pengguna, sehingga masyarakat lebih memilih memanfaatkan moda transportasi massal ketimbang menggunakan kendaraan pribadi. (ArifNugroho/HeriCS)

Artikel sebelumnyaDongkrak Wisatawan, Dermaga Karimunjawa Akan Dibenahi
Artikel selanjutnyaSetahun, 486 Ton Sirip Hiu Dikirim Ke Luar Negeri