PLN Minta Pengusaha Tak Bangun Pembangkit Sendiri

Semarang, 92.6 FM-Guna menjembatani kebutuhan para pelanggan listrik kepada PLN, tiga pembangkit listrik saat ini tengah dibangun di wilayah Jawa Tengah. Yakni PLTU Jawa 4 dengan kapasitas 2×1000 MW di Tanjung Jati Jepara, PLTU Batang dengan kapasitas 2×1000 MW dan PLTU Jawa 8 dengan kapasitas 1×1000 MW di Cilacap.

Proyek-proyek pendukung kelistrikan di Jawa Tengah itu dibangun, untuk memenuhi kebutuhan kelistrikan bagi masyarakat dan industri. Pernyataan itu dikatakan Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Tengah Amir Rosidin, ketika membuka Multi Stakeholder Gathering, di Hotel Patra Jasa Semarang, Selasa (1/8).

Menurut Amir, pengembangan ketenagalistrikan di Indonesia pada umumnya dan Jawa Tengah pada khususnya sangat pesat beberapa tahun ini. Hal itu ditandai dengan prgram pembangunan pembangkit 10 ribu MW dan dilanjutkan pembangunan pembangkit 35 ribu MW serta transmisi pendukungnya.

Amir menjelaskan, pihaknya sangat siap untuk memenuhi permintaan ketenagalistrikan di wilyah Jawa-Bali. Kesiapan PLN itu, ditandai dengan kemampuan suplai sistem Jawa-Bali yang memiliki cadangan operasi reserve sebesar kurang lebih 30 persen dari total kebutuhan listrik.

Saat ini, jelas Amir, beban puncak Jawa-Bali 25.106 MW dan daya mampu netto sebesar 33.153 MW. Sehingga, masih ada cadangan daya sebesar delapan ribu MW. Oleh karena itu, ia meminta pelanggan PLN di sektor industri untuk tidak mengajukan pembangunan pembangkit listrik sendiri.

“Di Pulau Jawa itu beban listriknya 25 ribu MW sedangkan kapasitas 33 ribu MW. Oleh karena itu, PLN memasarkan secara masif kepada masyarakat dan mendatangi rumah-rumah mana yang perlu disambung. Kalau untuk sektor industri, kami minta tidak perlu membangun pembangkit listrik karena pasokan lebih dari cukup,” kata Amir.

Lebih lanjut Amir menjelaskan, pihaknya akan terus berupaya memberikan informasi dan layanan terbaik kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan listrik. Sehingga, antara PLN dengan pemerintah dan pengusaha serta masyarakat terjadi sinergi di dalam menggerakkan roda perekonomian. (Bud)

Artikel sebelumnyaMenangkal Efek Negatif Sistem Proporsional Terbuka
Artikel selanjutnyaWidhi Handoko Masih Kurang Rekomendasi Dari DPC PDIP Kota Semarang

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini