Teliti Microfluidic Fuel Cell, Dosen Mesin Polines Raih Gelar Doktor Di Taiwan

Semarang, idola 92.6 FM – Politeknik Negeri Semarang (Polines) kembali dapat tambahan energi baru. Yusuf Dewantoro Herlambang, dosen Jurusan Teknik Mesin, Polines, berhasil meraih gelar doktor dari National Kaohsiung University of Applied Sciences, Taiwan.

Gelar doktor itu didapatkannya setelah berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “A Numerical Study on the Performance of Microfluidic Fuel Cells with Different Operating Conditions” dalam ujian yang digelar di Mechanical Engineering Department Building, National Kaohsiung University of Applied Sciences, Taiwan, belum lama ini.

Direktur Polines, Ir Supriyadi, MT mengapresiasi kelulusan studi lanjut dosen ini. “Kian menambah dosen yang berkualifikasi doktor di Polines,” kata Supriyadi dalam siaran persnya kepada www.radioidola.com, Senin (10/7). Diharapkan setelah lulus, doctor Yusuf dapat mengembangkan keilmuwannya di jurusan teknik Mesin Polines.

Disertasi ini diselesaikannya dengan bimbingan, Prof. Shun-Ching Lee, Ph.D dan Prof. Jin-Cherng Shyu, Ph.D. Sedangkan selaku penguji eksternal yakni, Prof. Wang-Long Li, Ph.D, Prof. Da-Sheng Lee, Ph.D dan Prof. Jr-Ming Miao, Ph.D. Untuk penguji internal, Prof. Min-Wen Wang, Ph.D, Prof. Shun-Ching Lee, Ph.D dan Prof. Jin-Cherng Shyu, Ph.D

Yusuf menuturkan, penerapan sistem pembangkit energi skala mikro berbasis energi terbarukan terutama pada perangkat portabel, menjadi peluang dan tantangan di masa mendatang dengan mulai berkurangnya cadangan bahan bakar fosil dunia (minyak, gas, dan batu bara). “Microfluidic fuel cell menjadi salah satu kandidat yang menjanjikan sebagai sumber energi alternatif di masa mendatang” ujarnya.

Karena potensi aplikasi yang luas dalam berbagai bidang komputer, telekomunikasi, pembangkitan energi, dan transportasi. Secara khusus untuk aplikasi pada perangkat portable elektronik yaitu cell phone, laptop, GPS, perangkat diagnostik klinis, dan stasiun pembangkit skala kecil.

Yusuf Dewantoro Herlambang, dosen Jurusan Teknik Mesin Polines.

Beberapa kelebihan microfluidic fuel cell dibandingkan dengan sumber energi baterei, jelasnya, adalah memiliki kemampuan untuk membangkitkan energi listrik secara terus-menerus selama tersedianya reaktan di dalam fuel cell, memiliki rapat energi yang tinggi, memiliki waktu operasi lebih lama tanpa melakukan pengisian atau penggantian secara periodik, tidak menghasilkan polusi dan emisi, memiliki masa operasional lebih lama, tidak terjadi interrupt jika diintegrasikan ke dalam sistem, dan bisa dikombinasikan dengan sitem pembangkit hybrid, misal photovoltaic (PV), turbin angin, biogas.

Penelitian disertasi ini menginvestigasi secara numerik unjuk kerja air-breathing direct formic acid microfluidic fuel cells (DFAMFCs) pada berbagai kondisi operasi yang berbeda. Microfluidic fuel (sel bahan bakar mikro) ini memiliki panjang microchannel 25 mm, lebar microchannel 1,5 mm dan kedalaman saluran 0.05 mm, dengan jarak antar elektroda 0,3 mm. Elektrode anode dan katode sepanjang 20 mm dengan ketebalan electrode difusi gas 0.25 mm.

Microfluidic fuel cell merupakan pembangkit energi berbasis elektrokimia yang mengkombinasikan bahan bakar dan oksigen di dalam saluran mikro melewati suatu elektrode untuk membangkitkan energi listrik melalui reaksi elektrokimia di dalam sel tersebut. Microfluidic fuel cell merupakan fuel cell skala mikro yang meniadakan membran penukar proton yang biasa digunakan pada fuel cell tradisional (PEM Fuel Cell) dengan mengaplikasikan aliran laminar pada laju aliran volumetrik rendah dan bilang Reynold kurang dari 1.

Ia mengungkapkan, penelitian ini menyajikan konsep proses transfer massa antara microchannel dan elektrode difusi gas serta reaksi kinetik elektrokimia di dalam air-breathing microfluidic fuel cell dapat dijadikan sebagai dasar panduan dalam desain dan optimasi untuk meningkatkan unjuk kerja sel bahan bakar pada penelitian dimasa mendatang.

Publikasi ilmiah yang telah dihasilkan : 4 artikel/paper pada jurnal internasional terindeks SCI Thomson Reuters dan atau Scopus serta 1 buah IEEE International conference on Nano/Micro Engineered and Molecular Systems (NEMS) pada tanggal 9-12 April 2017 di University of California Los Angeles, California, USA. (Heri CS)

Artikel sebelumnyaBagaimana Mengantisipasi Ancaman Pelebaran Defisit APBN Perubahan 2017?
Artikel selanjutnyaTaspen Serahkan Santunan Kepada ASN Korban Kecelakaan Helikopter Basarnas

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini