Eksosistem Bisnis Startup Butuh Dukungan Banyak Pihak

Semarang, Idola 92.6 FM – Untuk memperkuat ekosistem bisnis startup digital diperlukan dukungan semua pihak. Terciptanya ekosistem akan melahirkan produk yang berkualitas pula.

Demikian disampaikan Gatot Hendraputra (Koordinator Gerakan Nasional 1000 Startup Digital Kota Semarang) dalam acara Idola Business Gathering yang digelar Radio Idola 92.6 FM Semarang, Rabu (31/1), di Hotel Grand Arkenso Parkview Semarang. Selain Gatot, dalam diskusi yang mengusung tema “Membangun Ekosistem Bisnis Startup Digital”, juga hadir beberapa narasumber yakni: Muhammad Nur (Dosen Fisika FSM Undip/ penemu D’Ozone), Andi Reina Sari (Kepala Divisi Advisory Ekonomi & Keuangan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jateng), Imperata Joko Subroto (Manager Business Service Witel Semarang), Fitrie Arianti (Founder boloku.id), Bayu Mahendra (Founder tumbas.in) dan Aditya Dwi Putra (Director Monika.id). Acara dipandu penyiar Radio Idola, Nadia Ardiwinata.

Menurut Gatot, gerakan nasional 1000 startup saat ini dimulai sejak tahun 2016 dan berjalan di 10 kota di seluruh Indonesia. Di antaranya Jakarta, Medan, Bali, dan Semarang. Awalnya, jelas Gatot, gerakan ini diinisiasi beberapa aktivis startup di Jakarta. Kemudian, merambah kota-kota lain. Pemerintah juga mendukung gerakan ini. Menurut Gatot, ini merupakan salah satu program sinergi kementerian dan swasta.

Gatot menyampaikan, tujuan utama gerakan ini adalah terbentuknya eksosistem karena itu yang paling penting. “Produk yang bagus akan muncul dari ekosistem yang bagus. Itu yang ingin kami bentuk. Untuk jangka pendek, sampai 2020 mendatang, pihaknya menargetkan di 10 kita akan tumbuh 1000 startup,” ujar Gatot.

Gatot Hendraputra, Koordinator Gerakan Nasional 1000 Startup Digital Kota Semarang.

Dia menututurkan, gerakan ini melakukan pola pendampingan dan mentoring kepada para penggerak industri startup yang baru. “Dari riset yang kami lakukan di beberapa kota, yang dibutuhkan oleh para startup sesungguhnya bukan permodalan namun pendampingan. Di sini, kita semua bekerja pro bono, tak digaji. Karena kami punya cita-cita besar bahwa ekosistem kita harus jadi,” tuturnya.

Ekosistem saat ini belum cukup mendukung. Membangun ekosistem memang tidak cepat, membutuhkan proses. “Dan, itulah yang sedang kami lakukan. Berproses untuk terus belajar dengan metode-metode,” ujarnya. Gatot menyampaikan, di era digital ini, dirinya percaya bahwa sekarang bukan zaman yang besar akan mengalahkan yang kecil. “Tapi, yang cepat akan mengalahkan yang lambat.”

Butuh Komitmen Kuat Kembangkan Startup

Dosen Fisika FSM Undip, Muhammad Nur menyampaikan, yang paling penting dari startup yang berbasis teknologi adalah komitmen. Komitmen dari peneliti, inventor, atau pemikir yang ingin membawa idenya sukses di pasar. “Tanpa komitmen yang kuat tak akan sampai,” kata inventor mesin pengawet makanan yakni D’ozone dan Cold Storage.

Menurut M Nur, semua pihak seperti pemerintah, bisnisman, swasta, hingga masyarakat mestinya juga memiliki komitmen yang sama. “Misalnya mahasiswa yang bermain di IT, siapa yang menggunakanna kalau tidak kita-kita sendiri? Kadang-kadang di sebuah instansi, ada teman yang buat program tertentu, tapi instansi itu tak percaya gunakan program itu,” terang M Nur.

Muhammad Nur, Dosen Fisika FSM Undip.

Dia mengemukakan, usaha semacam startup di negara maju sudah banyak didukung berbagai pihak. Ia mencontohkan, di Uni Eropa, beberapa negara memiliki inkubator bisnis yang kuat. Di perguruan tinggi, selama empat tahun startup dipelihara betul dengan bantuan pemerintah, perbankan, dan bisnisman juga terlibat.

“Dan, mereka sudah ada kapital malaikat. Artinya, kalau saya keluarkan dana untuk si A, kalau dia berhasil memang bakat jadi orang kaya. Tapi, kalau gagal, ya sudah, finish. Kalau berhasil, tentu dia tak akan sayang keluarkan beberapa kali lipat dari dana yang dia terima. Di sini, kan tidak ada. Orang kaya di sana hanya punya rumah 1-2 flat sudah cukup. Selebihnya digunakan untuk gerakkan ekonomi,” jelasnya.

Niat Saja Tak Cukup

Menanggapi hal itu, Kepala Divisi Advisory Ekonomi & Keuangan Bank Indonesia Perwakilan Jateng, Andi Reina Sari mengatakan, BI bekerjasama dengan beberapa perguruan tinggi untuk menjaring dan membina startup. BI memberi mahasiswa modal tetapi sebelumnya ada seleksi terlebih dulu. “Dalam proses seleksi, pihak BI juga melibatkan perguruan tinggi dan orangtua masing-masing,” ujarnya.

Menurut Reina, pihaknya melakukan seleksi. Mereka tidak hanya sekadar mau berwirausaha tapi juga secara karakter. “Niat ingsun saja tidak cukup. Jadi, anaknya niat, orangtuanya juga niat. Jadi, memang orangtua juga kita seleksi. Jadi memang perjalanan waktu orangtua kita libatkan dalam menyeleksi anaknya,” jelasnya.

Andi Reina Sari, Kepala Divisi Advisory Ekonomi & Keuangan Bank Indonesia Perwakilan Jateng.

Tantangan terbesar para startup yang didampingi BI, menurut Reina, adalah sikap dari pelaku usaha itu sendiri. Sebab, sebagian yang telah lulus lebih tergiur bekerja di instansi yang mendapatkan gaji besar ketimbang melanjutkan rintisan bisnisnya. “Ya, tapi kami tidak bisa mencegah. Itu bagian dari pencarian jati diri mereka,” ujarnya.

Tidak hanya Bank Indonesia dan perguruan tinggi yang turut mendukung ekosistem bisnis startup, pihak swasta pun turut ambil bagian. Salah satunya adalah PT Telkom. Manager Business Service Witel Semarang, Imperata Joko Subroto, menyatakan, pihaknya punya banyak media untuk pengembangan startup digital.

Imperata Joko Subroto, Manager Business Service Witel Semarang.

Pihak PT Telkom menggandeng perguruan tinggi dan komunitas startup untuk membangun aplikasi yang bisa dibawa ke customer kami. “Beranjak dari situ sebetulnya. Sebab, banyak kebutuhan customer kami yang kalau digarap sendiri oleh Telkom butuh proses. Kalau selesai, pelanggan sudah lari. Sementara pelaku startup abilitasnya lebih tinggi. Mereka kreatif, cepat, dan lincah. Sehingga, kenapa tidak kita garap saja,” ujar Imperata.

Menurutnya, ekosistem pihak-pihak dalam bimbingan PT Telkom sudah cukup mendukung. Pengalaman membimbing para startup juga cukup bagus. Pihaknya, juga menggandeng startup di luar yang sudah difasilitasi PT Telkom melalui ajang Indihome Award.

Fitria Arianti, founder boloku.id.

Salah satu penggiat startup-er yang juga founder boloku.id, Fitria Arianti mengatakan, bahwa sebelumnya dia mengajak anak muda kreatif dengan ide luar biasa untuk membuat produk yang baik. “Salah satunya adalah boloku.id yang kemudian menjadi divisi dari SM Network. Tugasnya membuat portal event yang promosinya gratis. Saat ini sudah ada 1.000 event yang berpromosi,” tandasnya. [Heri C Santoso]

Artikel sebelumnya[PhotoEvent] Idola Business Gathering Januari 2018
Artikel selanjutnyaDi Era Post-Truth, Bagaimana Memagari Pancasila dari Kepungan Isu SARA