Di Era Post-Truth, Bagaimana Memagari Pancasila dari Kepungan Isu SARA

Semarang, Idola 92.6 FM – Konten negatif di dunia maya termasuk hoaks dan ujaran kebencian naik signifikan. Semua pihak patut mewaspadai fenomena ini. Ini menandakan kini kita benar-benar berada di era post-truth. Post truth atau pasca kebenaran merupakan kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik, dibanding emosi dan keyakinan personal.

Post-truth merupakan suatu masa di mana masyarakat lebih terpengaruh dengan opini-opini publik berdasarkan daya tarik emosionalnya, tanpa memandang apakah fakta itu nyata atau obyektif. Dalam kata lain, masyarakat hanya ingin mengetahui apa yang sesuai dengan ketertarikan emosionalnya semata.

Hal itu didukung dengan fakta yang diungkap oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo). Berdasarkan data Kemenkominfo, dalam dua tahun terakhir, penyebaran kabar bohong meningkat secara drastic. Ada peningkatan hampir 900 persen jumlah pengaduan masyarakat terkait konten di situs, akun media sosial, aplikasi telepon genggam, dan perangkat lunak. Ini menandakan, penanganan konten hoaks dan ujaran kebencian belum dilakukan secara optimal oleh perusahaan media sosial.

Pengguna media sosial bisa menggugah berbagai macam konten, baik isu SARA, fitnah tentang seseorang, maupun informasi bohong lainnya. Akibatnya, keutuhan berbangsa di tanah air menjadi rawan. Isu SARA seolah seperti virus yang secara perlahan menggerogoti sendi-sendi keutuhan bangsa dan Pancasila.

Lantas, di era Post-truth, bagaimana memagari Pancasila dari kepungan isu SARA? Secara cultural upaya apa yang mesti dilakukan agar kecenderungan SARA bisa dicegah? Upaya edukasi seperti apa yang mesti ditanamkan kepada generasi muda agar tak mudah terpancing isu SARA?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola berdiskusi dengan dua narasumber yakni: Siswono Yudo Husodo (Ketua Yayasan Pembina Pendidikan Universitas Pancasila) dan Prof DR Sudjito SH (Kepala Pusat Studi Pancasila UGM Yogyakarta). (Heri CS)

Berikut Diskusinya:

Artikel sebelumnyaEksosistem Bisnis Startup Butuh Dukungan Banyak Pihak
Artikel selanjutnyaDilaporkan Keempat Kalinya, Haruskah Ketua MK Arief Hidayat Mengundurkan Diri?
Editor In Chief Radio Idola Semarang.