Membaca Perubahan Iklim Global dan Bagaimana Mengantisipasinya?

Semarang, Idola 92.6 FM – Cuaca ekstrem pada musim panas terus berlanjut dengan temperatur gelombang panas memecahkan rekor di empat benua non-tropis di belahan bumi bagian utara. Di Jepang, suhu udara memecahkan rekor terpanas yang tercatat sejak medio 1800-an. Di sebuah kota yang terletak sekitar 64 kilometer dari Tokyo, Kumigaya, temperatur bahkan mencapai 41,1 derajat Celsius. Tak ayal, gelombang panas ini sudah menelan korban hingga 77 jiwa, sementara 30 ribu warga lainnya dilarikan ke rumah sakit sejak 9 Juli lalu.

Cuaca ekstrem juga berembus di sejumlah negara Asia Timur lainnya, seperti Korea Selatan dan Korea Utara, di mana suhu udara mencapai hampir 40 derajat Celsius. Sebagian besar belahan Eropa juga terpanggang di bawah tekanan tinggi yang mendorong panas tropis menanjak ke arah Arktik, menghalangi hujan untuk meredakan cuaca ekstrem. Suhu udara hingga mencapai 32 derajat Celsius melingkupi bagian utara hingga mencapai Skandinavia, memecahkan rekor di Swedia, Finlandia, dan Norwegia.

Gelombang panas ini memicu sejumlah kebakaran lahan di Swedia, memaksa mereka meminta bantuan dari negara lain, seperti Italia yang dianggap memiliki sumber daya lebih memadai untuk memadamkan api. Di Inggris, musim panas dimulai dengan pemecahan rekor udara paling kering. Met Office mencatat, temperatur lebih tinggi 0,1 derajat Celsius dari musim panas dengan suhu paling tinggi sepanjang sejarah Inggris.

Kebrutalan gelombang panas juga menghantam Kanada dengan suhu udara tertinggi di Montreal tercatat hingga 36,6 derajat Celsius pada 2 Juli lalu. Setidaknya 70 orang tewas terkait gelombang panas ini. Di Amerika Serikat, gelombang panas berembus dari wilayah ramai penduduk di timur laut hingga kawasan gurun di barat daya. Gelombang panas di Dallas-Fort mengembuskan angin bersuhu 42 hingga 43 derajat Celsius selama empat hari berturut-turut.

Sementara di Indonesia, BMKG telah merilis dalam beberapa hari ke depan, perairan di Indonesia akan bergejolak dan memicu tinggi gelombang mulai dari 1,5 meter hingga 6 meter.

Lantas, apa sesungguhnya yang sedang terjadi dengan iklim dunia saat ini? Apakah ini juga berpotensi mengancam Indonesia? Sebagai bagian edukasi kepada masyarakat untuk menjaga bumi, apa yang bisa kita lakukan? Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang mewawancara Kepala Pusat Info Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan. [Heri CS]

Berikut diskusinya:

Artikel sebelumnyaBagaimana Menanamkan Literasi Keagamaan bagi Generasi Muda di Tengah Ancaman Paham Radikalisme dan Intoleransi?
Artikel selanjutnyaSatu Mantan Napi Korupsi Dicoret KPU Jateng