Mengurai Karut Marut Kekerasan Antarsupporter Sepakbola

Semarang, Idola 92.6 FM – Fanatisme ibarat pisau bermata dua dalam sepakbola. Ketika dikelola dengan tepat, kebanggaan itu menjadi energi positif untuk tim favorit. Namun jika salah sarah bisa rentan memicu malapetaka perenggut nyawa.

Hal itu pula yang menimpa Haringga Sirla yang meninggal akibat dikeroyok secara brutal oleh oknum bobotoh saat hendak menonton laga Persib Bandung vs Persija Jakarta. Melihat kondisi ini, bisa dikatakan Sepakbola Indonesia dalam situasi gawat darurat karena terus jatuhnya korban jiwa. Sebagai bentuk respons pemerintah atas insiden ini, PSSI memutuskan menghentikan sementara Liga 1 untuk waktu yang belum ditentukan.

Berdasarkan riset Save Our Soccer, lembaga pemantau sepakbola nasional, setidaknya 70 supporter tewas akibat vandalisme di sepak bola di Indonesia sejak 1995. Sebanyak 70 persen kasus kekerasan itu terjadi selama satu decade terakhir. Dalam setahun terakhir, setidaknya tujuh nyawa melayang akibat kekerasan itu.

Lantas, pascakematian salah satu supporter Jakmania Persija Jakarta, semua pihak seolah-olah menyatakan Sepakbola Indonesia dalam situasi darurat. Apa yang terjadi dengan iklim persebakbolaan kita kaitannya dengan klub sepakbola dan fanatisme supporternya? Atas peristiwa ini, siapa yang paling bertanggung jawab? Menyoal hubungan antara klub sepakbola dan fanatisme supporter—bagaimana mestinya agar ke depan tak ada lagi konflik dan gesekan antar rival sehingga tak memicu kekerasan? PSSI yang menghentikan Liga 1 sampai waktu yang belum ditentukan sudah tepatkah? Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang mewawancara Pengamat Sepak Bola Tommy Welly. [Heri CS]

Berikut wawancaranya:

Artikel sebelumnyaMembaca Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) 2019
Artikel selanjutnyaKasus Tagihan RS, BPJS Kesehatan Sebut Ada Ketidaksesuaian Antara Premi Dengan Penghitungan Dana Sosial Nasional