Bagaimana Keluar Dari Jebakan “Taken for Granted” pada Sektor Pariwisata Unggulan Indonesia?

Tanah Lot Bali
Tanah Lot Bali.

Semarang, Idola 92.6 FM – Pariwisata diposisikan sebagai salah satu pengungkit pendapatan negara. Terlihat dari ditetapkannya, 3 sampai 4 super priority destinasi wisata. Seperti Borobudur, Danau Toba, dan Bali. Dari itu bisa dibaca bahwa Pariwisata diharapkan bisa menjadi pundi-pundi baru untuk mendongkrak pendapatan devisa negara di tengah defisit transaksi berjalan.

Akan tetapi di pihak lain kita mendengar, Bali dan Pulau Komodo masuk dalam daftar No List atau tidak layak dikunjungi pada 2020 oleh Fodor’s Travel, Amerika Serikat. Ini bisa kita tangkap sebagai sinyal bahwa kita kena penyakit umum– bahwa nilai sesuatu itu baru tampak ketika sesuatu itu tidak ada atau taken for granted Ibaratnya, “Bali yang seksi, elok, dan dikenal sebagai Pulau Dewata ini, sudah begitu dari mulanya sehingga seolah tak perlu diapa-apakan lagi!” Namun ternyata, tidak seperti itu. Karena ada persoalan sampah, air bersih, dan perilaku turis yang tidak mengindahkan adat istiadat masyarakat setempat.

Tentu saja Ini mengingatkan tentang pentingnya kita untuk menghilangkan taken for granted. Posisi berhadap-hadapan degan taken for granted adalah sikap mensyukuri dengan cara merawat, berhati-hati dan melindungi. Tetapi ini juga bukan kepada Bali, tapi juga wisata lain di Indonesia yang masuk dalam top priority seperti Danau Toba dan Borobudur.

Lantas, dalam jangka pendek—apa yang mesti dilakukan dalam meng-counter Fodor’s Travel yang memasukkan Bali dan Pulau Komodo dalam daftar tidak layak dikunjungi pada 2020? Dan, dalam jangka menengah dan panjang, bagaimana kita keluar dari jebakan taken for granted?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Sapta Nirwandar (Pemerhati Pariwisata/ Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014) dan Tjokorda Artha Andana Sukawati (Wakil Gubernur Provinsi Bali). (Heri CS)

Berikut diskusinya:

Artikel sebelumnyaLedakan Fashion Kota Semarang
Artikel selanjutnyaMengapresiasi Gebrakan Kapolri Idham Aziz, Sudahkah Dibarengi Instrumen yang Menunjang?

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini