Sekolah Antigadget: Kenapa Anak-anak Kita Mesti Dibatasi dari Gadget?

Sekolah Anti Gadget

Semarang, Idola 92.6 FM – Pada saat dunia begitu mengagungkan gadget bahkan dunia pendidikan pun akan menggunakan piranti teknologi, sosok yang satu ini justru menerapkan sebaliknya—yang antimainstream.Ia menerapkan sekolah antigadget.

Adalah Ketua Yayasan Pendidikan Lazuardi, Haidar Bagir. Seperti ditulisnya dalam opini di Kompas (31/10/2019) berjudul “Sekolah Antigadget”, ia selama kurang lebih 26 tahun berkutat dengan dunia pendidikan—menolak menggunakan gadget dalam proses pembelajarannya.

Apa yang dilakukan Haidar dengan lembaga pendidikannya sebenarnya juga diterapkan di Silicon Valley melalui Waldorf School. Sejalan dengan sikap para pemilik perusahaan berbasis TI seperti Bill Gates, Steve Job, dan Mark Zuckerberg, sekolah Waldorf juga melarang penggunaan gadget dalam proses pembelajaran dan menggantinya dengan hands-on learning atau belajar dengan melibatkan kegiatan fisik.

Lantas, terkait ini, apa, dan kenapa anak-anak kita mesti dibatasi dari gadget? Sebagai bagian dari edukasi publik, hal-hal apa yang mesti dipahami guru dan orangtua terkait penggunaan gadget ini bagi anak-anak? Dalam konteks ini, kita memiliki Mendikbud baru yakni Nadiem Makariem. Dalam beberapa kesempatan, ia kerap menyampaikan bahwa dengan piranti teknologi ia akan melakukan terobosan di dunia pendidikan. Lantas, bagaimana mestinya? Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola Semarang mewawancara Ketua Yayasan Pendidikan Lazuardi Haidar Bagir. (Heri CS)

Berikut wawancaranya:

Artikel sebelumnyaSambut Piala Dunia U-20, DPRD Jateng Minta Pemda dan Masyarakat Jadi Tuan Rumah Yang Baik dan Tawarkan Destinasi Wisata
Artikel selanjutnyaPola Pikir Kritis sebagai Konsekuensi Logis dari Demokrasi Masih Belum Diberi Ruang, Apa yang Perlu Dilakukan?