Menyorot Rencana Kebijakan Relaksasi PSBB

Relaksasi PSBB
(ilustrasi detik)

Semarang, Idola 92.6 FM – Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB merupakan upaya membatasi pergerakan orang, yang bertujuan untuk mengurangi atau memotong rantai penularan virus Corona. Makanya mulai dari bekerja, sekolah, bahkan ibadah, seluruh masyarakat diminta untuk melakukannya di rumah. Berat? Sudah pasti, tetapi itu semua rela dilakukan demi kepentingan bersama, agar menang dalam Perang Sunyi melawan corona.

Tetapi kini, belum juga pandemi berangsur pergi—dan jumlah kasus pasien positif masih terus bertambah, pemerintah justru berencana merelaksasi PSBB. Relaksasi, arti sederhananya adalah “melonggarkan,” agar roda perekonomian tetap bisa bergerak meski tetap dalam kerangka protokol kesehatan. Sehingga, rumah makan tetap boleh dibuka, orang-orang dapat berbelanja, dengan protokol kesehatan khusus. Menurut Menkopolhukam Mahfud MD, saat ini tiap daerah di Indonesia menerapkan PSBB yang berbeda. Ada yang benar-benar ketat sehingga aktivitas ekonomi lumpuh, ada pula yang sangat longgar.

Tapi, kembali lagi ke tujuan diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar―untuk memutus atau membatasi penyebaran virus corona―kenapa kini akan direlaksasi sebelum misi belum benar-benar dicapai? Kalau tujuannya adalah untuk sedikit menggerakkan roda perekonomian, bukankah itu menjadi ‘pertaruhan’ yang terlalu mahal? Kalau bukan demi ekonomi, lalu demi apa, dan demi siapa? Apakah pandemi sudah berhasil diatasi?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, radio Idola Semarang berdiskusi dengan: dr Pandu Riono, MPH, Ph.D (Ahli Epidemiologi/ staf pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), dan Hendri Satrio (Pengamat Komunikasi Politik). (Andi Odang/ Heri CS)

Berikut podcast wawancaranya:

Artikel sebelumnyaPemprov Jateng Sudah Minta Dinsos Tangani Warga Klaten Yang Mau Jual Ginjalnya
Artikel selanjutnyaPembobolan Data Pelanggan Kembali Terjadi, Benarkah Ini Menjadi Bom Waktu bagi Perusahaan Teknologi di Indonesia?