Mewaspadai Cuaca Ekstrem dan Memitigasi Bencana Hidrometerologi

Ilustrasi Bencana Hidrometerologi

Semarang, Idola 92.6 FM – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, perubahan Iklim meningkatkan risiko banjir di Jakarta seperti kejadian awal tahun 2020. Curah hujan ekstrim >150 mm/hari yang turun cukup merata di wilayah DKI Jakarta telah memicu banjir besar sebagaimana telah terjadi di tahun 2015 dan 2007 lalu serta tahun 2020.

Pengkajian data historis curah hujan harian BMKG selama 150 tahun (1866 – 2015) terdapat kesesuaian tren antara semakin seringnya kejadian banjir signifikan di Jakarta dengan peningkatan intensitas curah hujan ekstrem tahunan sebagaimana terjadi pada 1 Januari 2020. Di wilayah Jabodetabek (data 43 tahun terakhir), curah hujan harian tertinggi per tahun mengindikasikan tren kenaikan intensitas 10 – 20 mm per-10 tahun.

Curah hujan ekstrem awal tahun 2020 ini merupakan salah satu kejadian hujan paling ekstrem selama ada pengukuran dan pencatatan curah hujan di Jakarta dan sekitarnya (berdasarkan batasan persentil 99% dan 99.9%). Curah Hujan ekstrem tertinggi selama ada pencatatan hujan sejak 1866. Hujan sangat lebat berdurasi panjang mulai tanggal 31 Desember 2019 sore hingga 1 Januari 2020 pagi menyebabkan banjir cukup luas. Setidaknya puluhan orang meninggal dan lebih dari 31.000 orang mengungsi dari 158 kelurahan yang terdampak.

Penyebab banjir di Jakarta sejatinya bukan hanya masalah curah hujan ekstrem dan fenomena meteorologist, terdapat beberapa faktor lain. Yakni, besarnya limpasan air dari daerah hulu, berkurangnya waduk dan danau tempat penyimpanan air banjir, permasalahan menyempit dan mendangkalnya sungai akibat sedimentasi dan penuhnya sampah. Selain itu, juga rendaman rob akibat permukaan laut pasang serta faktor penurunan tanah (ground subsidence) yg meningkatkan risiko genangan air, akan tetapi curah hujan ekstrem paling dominan sebagai penyebab banjir di Jakarta.

Lantas, bagaimana memahami dan mewaspadai cuaca ekstrem serta memitigasi bencana hidrometerologi tahun ini? Guna menjawab persoalan ini, Radio Idola Semarang mewawancara Deputi Bidang Meteorologi BMKG, R. Mulyono R. Prabowo. (Heri CS)

Berikut wawancaranya:

Artikel sebelumnyaBagaimana Mengikis Demokrasi Elitis?
Artikel selanjutnyaBPBD Jateng Imbau Warga Waspadai Hujan Deras Selama Dua Jam

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini