BI Jateng Bantu Sarana Pembayaran Non Tunai ke Pedagang Mi Bakso

Pribadi Santoso
Kepala KPw Jateng Pribadi Santoso saat mencoba pembayaran digital melalui QRIS di pedagang bakso, Kamis (16/9).

Semarang, Idola 92,6 FM – Dalam rangka meningkatkan literasi pembayaran digital bagi pelaku UMKM, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah memberikan bantuan sarana prasarana penunjang kepada pedagang mi bakso di kantornya, Kamis (16/9). Bantuan diberikan kepada perwakilan Asosiasi Pedagang Mi dan Bakso (Apmiso) Jateng, dan Paguyuban Pedagang Mi dan Bakso (Papmiso) Jateng.

Kepala Kantor Perwakilan BI Jateng Pribadi Santoso mengatakan dalam rangka mendukung peningkatan kapasitas UMKM di wilayah Kota Semarang, pihaknya memberikan bantuan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) kepada para pedagang mi dan bakso. Bantuan yang diberikan itu, berupa sarana dan prasarana penunjang produksi pembuatan mi dan bakso kepada pedagang keliling maupun warung.

Pribadi menjelaskan, bantuan yang diberikan kepada para pedagang mi dan bakso itu juga untuk meringankan beban pelaku UMKM di tengah penerapan PPKM level di sejumlah tempat. Sebab, kondisi tersebut membuat banyak pedagang atau pelaku usaha berkurang omzet penjualannya karena tidak banyak orang berbelanja.

Menurutnya, bantuan yang diberikan BI kepada pedagang mi dan bakso itu satu di antaranya adalah pembuatan barcode QRIS sebagai media pembayaran digital. Sehingga, meskipun tidak hanya berjualan keliling dan pembeli tidak perlu datang tetapi transaksi jual beli tetap bisa dilakukan.

“Salah satu kunci dalam menghadapi pandemi ini adalah digitalisasi. Kami di Bank Indonesia, kita galakkan penggunaan alat pembayaran digital melalui QR Indonesian Standart. Jadi tidak perlu menggunakan mata uang tunai, tapi menggunakan QRIS,” kata Pribadi.

Sementara itu Sekretaris Papmiso Jateng Cucuk Wahyudi menambahkan, selama pandemi memang banyak pedagang mi dan bakso mengeluhkan sepi pembeli. Bahkan, penerapan PPKM juga memberikan dampak bagi pedagang mi dan bakso tidak bisa masuk ke areal permukiman atau perumahan.

Menurutnya, dengan adanya pembayaran secara digital ini diharapkan bisa meningkatkan perekonomian para pedagang mi dan bakso.

“Secara garis besarnya kita semua yang sudah mendapat QRIS itu, langsung dipasang di toko atau warungnya masing-masing. Karena itu simpel. Kalau misalkan tidak ada meja kan, itu bisa ditempel di kaca gerobak karena bentuknya stiker. Jadi, tidak harus membutuhkan tempat untuk QRIS diletakkan,” ucap Cucuk.

Lebih lanjut Cucuk berharap, kondisi pandemi cepat teratasi dan pedagang mi bakso bisa berjualan dengan nyaman. (Bud)

Artikel sebelumnyaPertamina Regional Jawa Bagian Tengah Raih 11 Penghargaan Nusantara CSR Award 2021
Artikel selanjutnyaMengenal “Aksakirana” karya Tim Mahasiswa UGM

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini