Membangun Kalimantan: Untuk Siapa, Kalau Prosesnya Terlihat Menyengsarakan Warganya?

Deforestasi
Area yang dibuka untuk perkebunan kelapa sawit di provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan. (e360.yale.edu - BAY ISMOYO/AFP/GETTY IMAGES)

Semarang, Idola 92.6 FM – Ekologi Kalimantan sedang berada di titik nadir. Begitu ungkap Ahmad Arif, jurnalis Kompas yang juga concern pada isu-isu lingkungan dan kebencanaan—mengibaratkan kondisi lingkungan di Pulau Kalimantan.

Menurut Arif dalam Kompas (01/12), Kalimantan kini mengalami peningkatan suhu tertinggi akibat deforestasi. Pulau terbesar ketiga di dunia itu kini juga identik dengan bencana alam. Bencana mematikan yang bersifat seketika kian sering terjadi di Kalimantan. Jika setiap kemarau diselimuti kabut asap, pada musim hujan Kalimantan selalu kebanjiran. Beberapa daerah yang sebelumnya aman dari banjir– seperti Kapuas Hulu pun kini kebanjiran.

Terkini, kita melihat langsung, akibat kerusakan hutan dan makin menyusutnya daya dukung lingkungan, banjir yang terjadi di Kabupaten Sintang, hampir sebulan lamanya.

Penelitian yang dipimpin Nicholas H Wolff dari The Nature Conservancy dan dipublikasikan di Jurnal Lancet Planetary Health, Kamis 11 November 2011 menyebutkan, selama 2002 hingga 2018 seluas 4 ribu lebih kilometer persegi hutan di Kabupaten Berau Kaltim telah dibabat. Ini setara luasan lahan di seluruh kabupaten ini. Wolff dan tim menemukan bukti bahwa deforestasi dalam kurun 16 tahun itu meningkatkan suhu harian maksimum di Berau rata-rata 0,95 derajat celcius.

Kita prihatin atas kondisi ini, Kalimantan hanya cermin dari model pembangunan di Indonesia yang telah melanggar hak warga akan lingkungan sehat, aman, dan berkelanjutan yang sejak Oktober 2021 telah diakui Dewan HAM PBB sebagai bagian dari hak asasi manusia.

Lantas, kita pun bertanya-tanya, eksploitasi Sumber Daya Alam yang dilakukan di Kalimantan, apakah membangun bagi Kalimantan atau hanya: membangun di Kalimantan? Lalu, kepada siapakah pembangunan ini didedikasikan, kalau prosesnya terlihat menyengsarakan warganya?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan beberapa narasumber yakni: Ahmad Arif (Wartawan Kompas), Prof Herry Purnomo (Peneliti Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR)/ Guru Besar IPB University), dan Arie Rompas (Team Leader Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia). (her/yes/ao)

Simak podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaMengenal “LISA”, Layanan Pencegahan Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Pertama di Bali
Artikel selanjutnyaPemprov Ingatkan Pengelola Wisata Jaga Prokesnya

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini