Mengenal “LISA”, Layanan Pencegahan Bunuh Diri dan Kesehatan Mental Pertama di Bali

Para relawan LISA Helpline
Support Buddy. Para relawan LISA Helpline. Layanan LISA tersedia selama 24 jam. (Photo dok Dwika LISA)

Bali, Idola 92.6 FM – Prihatin atas munculnya kasus bunuh diri dipicu depresi, I Dewa Ayu Dwika Puspita Dewi dan berbagai komunitas di Bali tergerak menginisiasi LISA, layanan pencegahan bunuh diri dan kesehatan mental pertama di Bali.

LISA merupakan akronim dari Love Inside Suicide Awareness. Layanan hotline LISA diluncurkan oleh komunitas Bali Bersama Bisa pada 28 Maret 2021 dan mulai beroperasi sejak 6 April 2021.

Komunitas Bali Bersama Bisa merupakan gabungan sebelas komunitas yang terdiri dari Movement of Recovery (MOR), Komunitas Teman Baik, Komunitas Bipolar Bali, komunitas Love and Strong Women, Komunitas Tuna Netra Teratai (Kostra), Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia Simpul Bali (KPSI) Rumah Berdaya dan lainnya.

LISA
(dok Dwika LISA)

Menurut Dwika, panggilan I Dewa Ayu Dwika Puspita Dewi selaku koordinator LISA, layanan LISA tersedia 24 jam, termasuk dalam bahasa Inggris karena tak sedikit WNA di Bali yang juga mengalami gangguan kecemasan. Layanan ini hadir akibat pandemi Covid-19. Menurut Dwika, saat ini usia orang-orang yang berkonsultasi makin bervariasi. Dari sebelumnya orang berusia 25 tahun, sekarang usia 17-18 tahun sudah ada berkonsultasi.

Laporan dari warga atau penderita diterima relawan LISA yang disebut support buddy. Kadang satu pelapor atau pengguna layanan tak hanya menghubungi sekali. Bisa berkali-kali, apalagi jika masalahnya berat. Pasca itu, pengguna layanan LISA akan diarahkan ke psikolog atau psikiater.

Selengkapnya mengenal LISA, layanan pencegahan bunuh diri dan kesehatan mental pertama di Bali, berikut ini wawancara radio Idola Semarang bersama I Dewa Ayu Dwika Puspita Dewi, koordinator LISA. (yes/her)

Simak podcast wawancaranya:

Artikel sebelumnyaTol Semarang-Demak Seksi II Selesai Kontruksi Pada Oktober 2022
Artikel selanjutnyaMembangun Kalimantan: Untuk Siapa, Kalau Prosesnya Terlihat Menyengsarakan Warganya?

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini