Kerugian Eksportir USD 8 Juta Akibat Banjir Rob

Kombes Pol Irwan Anwar
Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Irwan Anwar saat menunjukkan lokasi tanggul yang jebol di kawasan Lamicitra.

Semarang, Idola 92,6 FM – Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Tengah menghitung, dampak banjir rob di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang beberapa pekan kemarin mencapai USD 8 juta. Paling menderita adalah pelaku ekspor garmen atau fesyen, karena barangnya barang yang mengalami kerusakan.

Ketua GPEI Jateng Ade Siti Muksodah mengatakan pihaknya telah melakukang penghitungan kerugian, akibat peristiwa banjir rob karena jebolnya tanggul di kawasan Lamicitra Pelabuhan Tanjung Emas Semarang beberapa pekan kemarin. Pernyataan itu dikatakan saat ditemui di Hotel Gumaya, kemarin.

Ade menjelaskan, dampak banjir rob yang terjadi di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang akibat jebolnya tanggul di kawasan Lamicitra paling menderita adalah para importir. Sebab, saat kejadian banjir rob itu kebanyakan kontainer yang berada di pelabuhan merupakan barang-barang impor.

Namun, bukan berarti eksportir tidak mengalami kerugian akibat kejadian banjir rob. Para eksportir juga mengalami kerugian yang tidak sedikit, karena banyak barang mengalami kerusakan.

“Yang sudah terhitung itu ada sekitar kurang lebih 18 pabrik di sekitar Lamicitra, yang kalau kita lihat berat ya. Barang-barang terdampak itu terdiri dari garmen, fesyen, alas kaki dan juga furnitur. Yang paling parah itu garmen, karena di situ kebanyakan perusahaan-perusahaan pakaian, tas yang mau diekspor ke Singapura. Ada juga bahan makanan minuman, termasuk sembako,” kata Ade.

Lebih lanjut Ade menjelaskan, untuk produk impor yang mengalami kerugian sebagian besar adalah kedelai dan beras dan kacang hijau. Diperkirakan, nilai kerugiannya mencapai USD 33 juta.

“Barang-barang impor itu kebanyakan dari Afrika,” jelasnya.

Terpisah Ketua Apindo Jateng Frans Kongi menyatakan, kejadian banjir rob di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang membawa kerugian bagi pelaku usaha. Terutama, untuk para pengusaha pemilik pabrik.

“Mesin-mesin pabrik yang terendam, tentu membuat kerugian banyak bagi pengusaha di sana,” ujar Frans.

Frans berharap, para pengusaha yang terdampak banjir rob bisa tertangani dan mendapatkan asuransi penggantian akibat kerusakan barang. (Bud)

Artikel sebelumnyaOmbudsman Minta Pemerintah Taati UU Pelayanan Publik Terkait Penetapan Tarif Obyek Wisata
Artikel selanjutnyaLewat Enceng Gondok, Bengok Craft Berdayakan Masyarakat Sekitar