Membaca Dampak Larangan Ekspor Gandum India bagi Indonesia

India mengeluhkan larangan ekspor CPO sawit yang secara mendadak dilakukan oleh Indonesia, kini mereka, meski menggunakan alasan kekeringan, juga menyetop ekspor gandumnya pada Sabtu 14 Mei lalu.

Gandum
photo/istimewa

Semarang, Idola 92.6 FM – Dalam sebuah relasi, apakah itu antar individu maupun antar negara berlaku hukum reciprocal atau hukum timbal-balik. Singkatnya, bagaimana cara kita ‘memperlakukan’ pihak lain, maka akan begitu pula cara mereka memperlakukan kita.

Setelah India sempat mengeluhkan larangan ekspor CPO sawit yang secara mendadak dilakukan oleh Indonesia, kini mereka, meski menggunakan alasan kekeringan, juga menyetop ekspor gandumnya pada Sabtu 14 Mei lalu.

Larangan itu, hanya beberapa hari setelah negara itu menargetkan rekor ekspor tahun ini. Larangan ini muncul setelah gelombang panas melanda India sehingga membatasi produksi dan membuat harga domestik melonjak ke level tertinggi sepanjang masa.

Padahal, permintaan pasar gandum global kini mengandalkan India, setelah ekspor dari wilayah Laut Hitam anjlok menyusul invasi Rusia ke Ukraina. Meskipun bukan satu-satunya negara pengekspor gandum dunia, larangan India diperkirakan dapat mendorong harga global akan naik menuju ke ‘puncak’ baru.

Diketahui, India merupakan produsen gandum nomor dua terbesar di dunia setelah China, dengan kapasitas produksi 107,5 juta ton. Indonesia diketahui mengimpor gandum sebesar 11,7 juta tiap tahunnya atau setara 3,45 miliar US Dollar.

Lalu, ketika India secara resmi melarang ekspor gandum, apa dampaknya bagi Indonesia? Apakah larangan itu merupakan respons negara tersebut setelah menyesalkan pelarangan ekspor sawit oleh Indonesia? Sebenarnya, berapa persen kebutuhan gandum kita yang selama ini dipasok oleh India? Lalu ke negara mana kita akan berpaling, kalau mengingat Ukraina sebagai salah satu suplier gandum bagi kita saat ini dilanda perang?

Untuk memperoleh gambaran atas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi dengan narasumber, di antaranya: Dwi Andreas Santosa (Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University/ Ketua Umum Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia AB2TI), Adhi S Lukman (Pengusaha/  Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI)), dan   Mohammad Faisal (Direktur Eksekutif CORE Indonesia). (her/yes/ao)

Simak podcast diskusinya:

Artikel sebelumnyaMengenal Yulianto, Pegiat Literasi dari Grobogan
Artikel selanjutnyaKoalisi Partai Politik, Akankah Bersatu untuk Menjadi Solusi atas Problem Bangsa?