Mengenal Anggrek Hutan Muaro Jambi bersama Adi Ismanto

Anggrek Macan
Grammatophyllum speciosum atau Anggrek Macan, juga disebut sebagai Anggrek raksasa atau Ratu anggrek, adalah anggrek terbesar dan terberat di dunia. Satu dari 84 jenis anggrek yang dirawat di Taman Sakat Lebung Panjang Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. (Photo dok Adi)

Muaro Jambi, Idola 92.6 FM – FM-Sebagai upaya menyelamatkan anggrek hutan yang tergusur oleh pembukaan lahan sawit, beberapa anak muda di Kabupaten Muaro Jambi tergerak. Mereka bertindak untuk menyelamatkan anggrek hutan.

Salah satu anak muda itu adalah Adi Ismanto, pelestari Anggrek Hutan. Ia juga penggagas Gerakan Muaro Jambi Bersakat (GMB). Gerakan Muaro Jambi Bersakat adalah komunitas anggrek hutan di Desa Jambi Tulo Maro Sebo Kabupaten Muaro Jambi.

Adi Ismanto
Adi Ismanto (celana pendek) Pelestari Anggrek Hutan/Penggagas Gerakan Muaro Jambi Bersakat (GMB) sedang melakukan budidaya di Taman Sakat Lebung Panjang Kabupaten Muaro Jambi. (Photo dok Adi)

Menurut Adi, sebelum tahun 2009, dirinya dan teman-temannya adalah pelaku jual beli anggrek. Ia mengambil anggrek dari hutan-hutan waktu marak alih fungsi lahan menjadi kebun sawit.”Kita tahu potensi anggrek-anggrek itu bernilai. Kita dengan kawan-kawan membentuk komunitas untuk menyelamatkan anggrek dari habitatnya,”tutur Adi kepada radio Idola, pagi (29/11) tadi.

Komunitas anggrek hutan
Di tempat inilah, sebagian anggrek yang diambil dari hutan dirawat oleh komunitas anggrek hutan di Desa Jambi Tulo Maro Sebo Kabupaten Muaro Jambi. Wisatawan hanya boleh melihat, tak boleh memetik apalagi membawa pulang anggrek hutan tersebut. (Photo dok Adi)

Setelah melakukan penyelamatan, pada 2013, Adi dan teman-temannya kewalahan. Menurut Adi, mau diapakan anggrek ini setelah dibawa keluar dari hutan? Karena anggrek butuh biaya hidup seperti media tanam, perlu disirami dan menyiapkan habitatnya. “Kebetulan kami mengajukan lokasi konservasi di Pematang Damar, tapi tahun 2015 hutan seluas 250 hektar itu, terbakar semua,”jelas Adi.

Anggrek di Taman Sakat Lebung Panjang
Wisatawan yang ingin masuk dan melihat anggrek di Taman Sakat Lebung Panjang Kabupaten Muaro Jambi tidak dipungut biaya sepeserpun. Wisatawan malah dimanjakan dengan tanaman anggrek yang dibudidayakan Adi Ismanto (tengah) beserta teman-temannya. (Photo dok Adi)

Setelah setahun kosong tanpa kegiatan dan kehilangan semangat, mereka kemudian bangkit pada 2017. Dan jadilah Taman Sakat Lebung Panjang Kabupaten Muaro Jambi.

Lalu mengapa Adi dan warga setempat keukeuh merawat anggrek-anggrek tersebut? Dari mana lahan yang sekarang dijadikan tempat konservasi anggrek? Berapa orang yang dilibatkan dalam GMB?

Selengkapnya, berikut ini wawancara radio Idola Semarang bersama Adi Ismanto, Pelestari Anggrek Hutan dan Penggagas GMB.(yes/her)

Simak podcast wawancaranya:

Artikel sebelumnyaSekda Minta Masyarakat Jateng Peduli Soal Konservasi DAS
Artikel selanjutnyaBagaimana Memperkuat Kesadaran Kolektif Masyarakat Tentang Keberagaman Bangsa?
Jurnalis senior dan gate keeper Radio Idola Semarang