Mengenal Bahruddin, Perintis Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah dan Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah

Kang Din
Bahruddin akrab dipanggil Kang Din Perintis Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) dari Salatiga Jawa Tengah bersama istri. (Photo dok Kang Din)

Salatiga, Idola 92.6 FM – Gelisah atas nasib para petani, Bahruddin mendirikan Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) di Salatiga Jawa Tengah pada 1999. Bahruddin yang akrab dipanggil Kang Din, mendirikan serikat ini agar suara petani bisa didengar. Sebelum mendirikan SPPQT ini, ia mendirikan Petani Berkah Alam (Al-Barokah) di Desa Kalibening (desa kelahirannya) Kecamatan Tingkir Kota Salatiga.

Putra dari almarhum KH Abdul Halim ulama besar di Salatiga ini, menyampaikan pentingnya serikat tersebut bagi petani bukan pertanian. Tujuannya agar agenda-agenda petani bisa terwujud karena perlu ada perkumpulan agar petani bisa kuat.

Kegiatan SPPQT
Salah satu kegiatan SPPQT “Integrated Farming System” untuk anak-anak KBQT. “Integrated Farming System” adalah program pendidikan pengelolaan sumberdaya agraria yang mengintegrasikan seluruh aspek baik pertanian, kehutanan, peternakan (agro silvo pastoral) maupun tata kelola dan niaga yang berkeadilan. (Photo dok Kang Din)

SPPQT mempunyai dua program utama yaitu memberdayakan dan mengadvokasi petani. Selain SPPQT, Kang Din juga mendirikan Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT) untuk anak-anak petani sejak 2003. Komunitas ini berkembang sebagai sekolah alternatif yang mengajarkan peserta didik agar berpikir kritis, berinovasi, dan menghasilkan karya dengan segala potensi yang ada di sekitar seperti membuat lukisan, buku, atau alat cas tenaga matahari.

Bahruddin lahir di Semarang, 9 Februari 1965. Pendidikan: Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo (lulus 1992). Suami dari Miskiyah ini dikaruniai tiga anak.

Pengalaman berorganisasi, antara lain: Anggota Badan Akreditasi Nasional (BAN) PAUD dan PNF (2018-2022), Ketua Dewan Pertimbangan Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (2007-2018), dan Ketua Dewan Presidium Konfederasi Warga Salatiga (Konmawas) (2002-2003).

Kegiatan SPPQT
Belajar tidak harus di ruangan. Inilah salah satu kegiatan SPPQT “Integrated Farming System” untuk anak-anak KBQT. (Photo dok Kang Din)

Atas dedikasi dan kiprahnya, Bahruddin meraih sejumlah penghargaan, antara lain: Ma’arif Award oleh Ma’arif Institute (2012), Penemu Model Community Based Education oleh GP Ansor (2006), dan 72 Ikon Prestasi Indonesia oleh UKP PIP (2017).

Selengkapnya, berikut ini wawancara radio Idola Semarang bersama Bahruddin, perintis Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) dan Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT). (yes/her)

Simak podcast wawancaranya:

Artikel sebelumnyaBelajar dari Kemenangan Ferdinand Marcos Jr dalam Pilpres Filipina 2022
Artikel selanjutnyaPolda Jateng Terjunkan 900 Personel Amankan Waisak