Social Skill, Bagaimana Urgensinya dan Siapa yang Mengajarinya?

Social Skills
ilustrasi/istimewa

Semarang, Idola 92.6 FM – Mungkin Anda juga sudah pernah mendengar, bahwa murid-murid di Jepang tidak mengikuti ulangan dan ujian sampai mereka kelas 4 SD.

Karena kabarnya, sekolah di Jepang mengutamakan sopan santun sebelum pengetahuan. Tujuan mereka selama 3 tahun pertama di SD adalah untuk mengembangkan karakter dan membentuk social skills (keterampilan sosial) bukan menilai pengetahuan mereka.

Begitu juga dengan pendidikan 5 tahun pertama anak-anak di Norwegia adalah membentuk social skills.

Lalu, apa itu social skills?

Social skills atau keterampilan sosial adalah keterampilan yang kita gunakan sehari-hari untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Termasuk dalam komunikasi verbal dan non-verbal, seperti ucapan, gerak tubuh, ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Seseorang memiliki keterampilan sosial yang baik, jika ia memiliki pengetahuan tentang bagaimana cara berperilaku dalam situasi sosial pada saat dia berkomunikasi dengan orang lain.

Jangan lupa, pada saat sudah beranjak dewasa, kesuksesan anak-anak tidak hanya tergantung dari kecerdasan intelektual mereka, tetapi juga dipengaruhi kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial adalah kemampuan mencapai kematangan pada kesadaran berpikir dan bertindak untuk menjalankan peran mereka sebagai makhluk sosial di dalam menjalin hubungan dengan lingkungan sosialnya.

Kecerdasan sosial dapat juga dimaknai sebagai kemampuan berinteraksi, kemampuan bekerja sama dalam organisasi, dan melakukan negosiasi.

Lalu pertanyaannya, kapan anak-anak kita mulai belajar social skills dan siapa yang mengajarinya? Apakah di sekolah anak-anak sudah mulai dikembangkan keterampilan sosialnya? Kenapa, seakan-akan, social skills kalah penting dan kalah mendesak dibanding pelajaran calistung? Kenapa para orangtua, akan merasa lebih heboh ketika nilai matematika anak-anak kita buruk, dibanding mereka tidak bisa antre?

Mengulas persoalan ini, radio Idola Semarang berdiskusi bersama Guru Besar Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga IPB University, Prof Euis Sunarti. (her/yes/ao)

Simak podcast diskusinya:

Artikel sebelumnya31 Daerah di Jateng Sudah Lakukan Vaksinasi COVID-19 Pada Anak
Artikel selanjutnyaLearn, Unlearn, dan Relearn: Bagaimana Mengimplementasikan Konsep Pembelajaran Ini?