Tergiur Klik, Terjebak Perbudakan ABK

Sebanyak ratusan hingga ribuan orang, dimana sebagian besar berasal dari Jawa Tengah menjadi ABK di kapal asing. Ada yang mujur bernasib baik, namun sebagian dari mereka justru terjebak ‘perbudakan modern’. Tak sedikit pula dari mereka mengalami perlakuan buruk, hingga meninggal dan dilarung di laut.

Perbudakan ABK
ilustrasi/alenia.id

Dengarkan Liputannya:

Kendal, Idola 92.6 FM – Untuk menggaet ABK pelbagai cara dan strategi dilakukan manning agency atau perusahaan perekrut dan penyalur ABK. Melalui platform media sosial seperti facebook, whatsapp group hingga jasa sponsor dan calo. Selain itu, siasat sosialisasi melalui aparatur desa pun dilakukan.

Di kanal facebook, banyak grup yang menawarkan lowongan kerja menjadi ABK dengan iming-iming gaji dollar atau mata uang asing yang menggiurkan. Salah satu contoh, di facebook, ada grup “LOKER LOWONGAN PEKERJAAN ABK”. Di grup itu, pemilik akun bernama Nur Elif pada 12 August 2021, mengunggah, pihaknya membutuhkan secepatnya ABK non pengalaman dan pengalaman untuk ditempatkan kerja di kapal.

Di statusnya, juga tertera persyaratan yang meliputi: sanggup menyelesaikan kontrak kerja, pria usia 19 tahun hingga 40 tahun, sehat jasmani & ruhani, KTP Asli/KTP sementara atau domisili, dan fotocopi KK 1 Lembar. Dalam materi lowongan kerja itu juga mencantumkan iming-iming gaji dollar.

Satu Grup FB Ribuan Anggota

Pada satu grup facebook, rata-rata memiliki ribuan anggota. Mengambil acak salah satu info lowongan tersebut, selama tahun 2020 hingga 2022, terdapat ratusan ratusan info lowongan pekerjaan yang diunggah. Baik dari pihak yang mengatasnamakan perusahaan, atau dari perorangan. Pihak perorangan merupakan orang yang bekerja sebagai sponsor atau calo. Mereka mendapat upah dari pihak manning agency ketika berhasil merekrut ABK.

Siasat agen merekrut calon ABK Migran
grafis/radioidola.com

Tak hanya melalui facebook. Beberapa perusahaan juga memanfaatkan akun media sosial seperti twitter, dan chanel youtube. Sebagian dari mereka juga memanfaatkan beberapa web lowongan pekerjaan seperti olx, jobstreet, indeed, dan jobindo.com. Sementara, beberapa manning agency juga memiliki web perusahaan. Meskipun sebagian perusahaan menggunakan web gratis.

Dari data yang dihimpun Kolaborasi Jurnalis Meliput Perbudakan ABK di Kapal Asing, sebagian ABK mendapatkan informasi lowongan dari sejumlah pihak. Informasi terbanyak yang diakses para ABK yakni: melalui teman, keluarga, sponsor, manning agency, dan media sosial. Kami pun mencoba mengkonfirmasi secara acak, salah satu agen perusahaan manning agency di Kabupaten Tegal yang menawarkan lowongan ABK di akun facebook. Saat dihubungi melalui telepon, mereka pun merespons dan menjawab pertanyaan yang kami ajukan seolah-olah sebagai pencari lowongan kerja ABK.

“Bisa merekrut ABK dan untuk kapal apa? (Pewawancara) Bisa, untuk tujuan Korea (Agen). Syaratnya, apa saja?(Pewawancara) Syaratnya biasa kalau nglamar pekerjaan: KK, KTP, Akta Kelahiran, ijazah, buku pelaut, BST, pasport, SKCK dari Polda (Agen).”

Saat ditanya mengenai alamat, petugas pun menjelaskan alamat kantor meski tidak menyebutkan secara rinci. Mereka pun tak sungkan menyebut iming-iming gaji besar dengan mata uang asing bagi yang sudah bekerja.

“Kantornya di mana ini, Pak? (Pewawancara) Tegal (Agen). Tegalnya mana, Pak? (Pewawancara) Adiwerna. Dekat Terminal. Dari Terminal Tegal sekitar 20 menit (Agen). Nama agen dan kantornya, Pak? (Pewawancara) (tidak dijelaskan secara rinci oleh agen. Diminta langsung ke alamat, nanti akan dikasih shareloc). Gambaran gaji misal nanti sudah kerja?(Pewawancara) Kalau gaji, UMR Korea, Mas! (Agen). Jika dirupiahkan berapa? (Pewawancara) Rp23 juta per bulan (Agen).”

Dari penuturan petugas agen tersebut, menunjukkan begitu mudahnya manning agency merekrut calon ABK. Selain itu, juga pandainya mereka memikat calon ABK dengan pikat gaji besar tanpa menjelaskan konsekuensi dan risiko pekerjaannya.

Kisah Duka Dika, Mantan ABK di Kapal China

Pengalaman mudahnya mengakses informasi lowongan kerja dialami Ardi Ardika, mantan ABK dari Dusun Jonjang, Desa Merbuh Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Dika pertama kali melihat informasi lowongan ABK di facebook pada tahun 2019 lalu. Iming-iming gaji tinggi dalam dollar membuatnya tergiur untuk melamar–di tengah sulitnya mendapat pekerjaan. Hal itu diceritakan Dika saat kami temui di rumah tinggalnya pada pertengahan Mei 2022 lalu.

Dari siapa mendapat info lowongan ABK
grafis/radioidola.com

“Saya sendiri, dapat info dari medsos facebook. Kebanyakan facebook. Sering lihat lowongan pekerjaan karena susah gak dapat (pekerjaan). Akhirnya, dapat info kapal perikanan melalui medsos facebook dengan gaji sekian-sekian yang menggiurkan. Tetapi, hasilnya berbeda dengan yang tertulis di situ,” kata Ardi Ardika.

Setelah proses administrasi selesai, oleh PT DSB—sebuah perusahaan manning agency di Kabupaten Pemalang, Dika ditempatkan di kapal asing berbendera China. Padahal, sebelumnya, Dika dijanjikan bekerja di kapal Taiwan. Di tengah kekecewaannya, Dika pun terpaksa menerima penempatan itu dengan berat hati. Setelah, selama berbulan-bulan diminta menggarap kapal mangkrak, Dika pun akhirnya berlayar. Bersama kurang lebih 26 orang dari berbagai negara mereka mengarungi wilayah perairan Arab, Dubai, Srilanka, hingga Maladewa selama kurang lebih 1,5 tahun. Selain ada ABK asal Indonesia, juga terdapat ABK yang berasal Myanmar, Philipina, dan Cina.

Kehilangan Sahabat di Atas Kapal

Namun, bak pepatah, indahnya mimpi tak seindah kenyataan terjadi pada Dika. Setelah sebelumnya dibohongi soal penempatan asal kapal, alih-alih mendapatkan fasilitas dan hak sesuai informasi awal, Dika justru terperangkap perbudakan di atas kapal. Saat musim mencari ikan dengan jaring troll dan alat pancing, ia kerja hampir setiap hari dan 24 jam. Gerak-geriknya pun diawasi melalui CCTV.

Terkait gaji, para ABK termasuk dirinya mendapatkan gaji 300 US dollar per bulan atau kurang lebih Rp4,3 juta. Namun, selama enam bulan pertama, gaji dipotong karena saat berangkat dibiayai oleh agen penyalur. Selama satu tahun pertama, ia sempat shock. Selama satu tahun bekerja, uang yang ditransfer rekening keluarganya hanya Rp4 juta atau artinya cuma ditransfer satu kali gajinya. Sesuai kontrak, Dika akhrinya pulang pada Desember 2020. Meski kontrak sudah diselesaikannya, ternyata, ia masih harus menunggu selama delapan bulan lebih untuk mendapatkan haknya (sisa gaji) yang belum dibayar pihak PT DSB.

Satu hal yang membuatnya masih terkenang-kenang, ia juga kehilangan salah satu teman ABK yang juga berasal dari Kecamatan Singorojo Kendal, Wendi. Almarhum Wendi berangkat bersama Dika sejak awal menjadi ABK. Wendi meninggal karena penyakit beri-beri yang dideritanya, dan hanya mendapatkan perawatan serta pengobatan sekadarnya.

Meski demikian, ia tetap bersyukur karena jenazah Wendi akhirnya bisa dipulangkan. Hal itu sebelumnya, berkat solidaritas perjuangannya bersama para ABK lain yang melakukan aksi mogok kerja di atas kapal—demi agar sahabatnya mendarat.

“Itu (Wendi-Red) berangkatnya sama saya. Teman saya. Teman mainlah dulu. Kalau yang lain, setahu saya ada yang dilarung. Saya takut, ada yang dilarung lagi. Teman-teman, mogok kerja. Itu pun kapal masih di tengah laut. Selagi tidak ada kerjaan apa-apa, kita telpon agensi, tanya sama kapten. Kaptennya konfirmasi sama agensinya. Nunggu dari bos kapalnya. Lha gimana mas, gak minggir, orang udah darurat banget kayak gini kok gak boleh minggir. Akhirnya, innalillahi waina ilaihi rojiun. Meninggal di tengah lautan,” ujar Dika sembari berkaca-kaca saat berkisah.

Kisah Yadi, Diancam Dilempar ke Laut

Sementara itu, pengalaman pahit menjadi ABK juga dialami Yadi, mantan ABK kapal asing asal Provinsi Jawa Barat. Informasi lowongan kerja sebagai ABK ia dapatkan dari temannya di kampung alias sponsor.

Ia berangkat pada 2013 ke wilayah perairan Atlantik di Amerika Latin dan Trinidad Tobago melalui sebuah perusahaan manning agency di Kabupaten Tegal. Ia bekerja bersama ABK lain dari Myanmar, Taiwan, dan Jepang. Saat di kapal ia dipaksa sang kapten kapal menjadi juru masak atau koki, padahal sebelumnya oleh agen sebagai pemancing. Saat bekerja, Yadi kerap mengalami intimidasi, dan bekerja melebihi jam kerja setiap harinya.

“Saya sebagai koki dan agama saya muslim. Saya dipaksa memasak daging yang diharamkam agama saya, dan saya tolak. Saya bilang pada kapten, “Agama saya melarang untuk memasak daging babi. Ini gak boleh.” Kapten bilang, kalau kamu gak mau masak ini (daging babi-Red). Saya lempar ke tengah laut!. Mau gak mau, dengan ancaman (saya memasak-Red) daripada saya mati konyol gak jelas,” kenang Yadi saat diwawancara radio Idola Semarang, dalam diskusi “Stop Perbudakan Modern di Laut” yang diselenggarakan Greenpeace bekerja sama dengan SBMI, beberapa waktu lalu.

Satu tahun berlayar, Yadi tak kuat. Ia dipulangkan dan tak digaji sepeser pun karena dianggap broken alias tidak memenuhi kontrak perjanjian, yakni minimal 2 tahun. Atas nasibnya, Yadi pun mengadu ke Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia atau BP2MI. Namun, pengaduan tak kunjung mendapat respons. Ia justru terkatung-katung tak jelas. Hingga, akhirnya ia mengadu dan difasilitasi Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI). (her/ade-seri 1 Liputan Perbudakan ABK)

Artikel sebelumnyaMengenal Sa’adah, Pendamping Korban Kekerasan pada Perempuan dan Anak dari Cirebon
Artikel selanjutnyaTNI/Polri Terus Gaungkan Sinergitas Dukung Kebijakan Pemerintah
Editor In Chief Radio Idola Semarang.