4 Kepala Daerah Inspirasi Bagi Negeri

Semarang, Idola 92.6 FM – Bupati Bantaeng, Sulawesi Selatan Prof Nurdin Abdullah menjelaskan betapa tidak terkenalnya daerah yang dipimpinnya dulu. Ia mengatakan Bantaeng ialah kabupaten miskin dengan APBD Rp300 miliar saja. Angka itu dikatakannya sangat kurang untuk membangun Bantaeng sebagai kabupaten tertua di Sulawesi Selatan.

“Awal-awal jadi bupati saya ditanya ‘dari mana?’, Bantaeng itu daerah dari mana?,” katanya dalam diskusi Journey To Success On Stage Radio Idola dengan topik (Inspirasi Bagi Negeri; Mendorong Lahirnya Para Legenda), Rabu (31/8) di Hotel Grasia Semarang.

Dalam perbincangan yang dihadiri ratusan audience itu, Radio Idola juga menghadirkan narasumber 3 Kepala daerah lain. Yaitu Bupati Kudus H. Musthofa, Bupati Bojonegoro Suyoto, dan Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo.

Prof Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Prof Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Lebih lanjut, Nurdin menceritakan Bantaeng dulu pernah menjadi daerah pemasok guru. Sebagai bupati ia dihadapkan persoalan kemiskinan, pengangguran dan APBD yang kecil dibanding daerah lainnya.

“Dengan Bojonegoro kami kalah jauh, Ketertinggalan Bantaeng sampai 2009 adalah kecelakaan sejarah. Namun kini kami berdosa jika membiarkan Bantaeng merana,” tukas Nurdin.

Mengembangkan Kab Bantaeng menjadi daerah yang kembali sejahtera ialah tantangan berat bagi Nurdin. Namun jerih payah mengubah pola pikir masyarakat untuk kembali memanfaatkan lahan-lahan pertanian agar tidak lagi merantau ke daerah luar sedikit demi sedikit berhasil.

Bantaeng memiliki sejumlah keberhasilan, diantaranya penghasil rumput laut untuk produk UKM. Dan Sentra produksi benih berbasis teknologi. Dengan hal ini, Nurdin menganggap Bantaeng sudah menuju sejahtera.

Berada di sebuah Kabupaten dengan 74 persen petani dan nelayan, Nurdin menyebut pemerintah belum mampu membayar budi baik mereka dalam rentan kemerdekaan RI ke 71 tahun ini.

Sebagai Negara agraris seharusnya petani lebih kaya dari yang lain. Karena menurut Nurdin, (mereka, red) menanam untuk memenuhi kebutuhan manusia. Pelan-pelan ia mengubah pola pikir masyarakat untuk kembali bertani memanfaatkan alam.

“Nah dalam 7 tahun terakhir, masyarakat Bantaeng sudah jarang memiliki keinginan menjadi PNS, mereka berbondong-bondong ingin memanfaatkan lahan yang mereka punya,” ujarnya.

Terakhir Nurdin beropini akan menyesal seandainya tidak menjadi bupati. Karena otomatis pula dia tidak bisa menyelesaikan permasalahan yang ada.

“Sebenarnya negara ini kalau diurus dengan benar, sebetulnya tidak mungkin masyarakat tidak sejahtera,” anggap Nurdin.

Bupati Kudus Musthofa

Musthofa, Bupati Kudus.
Musthofa, Bupati Kudus.

Bupati Kudus Musthofa menerangkan wilayahnya ditakdirkan menjadi wilayah penghasil orang-orang kaya. “Saya berfikir kalau orang kudus tidak punya jiwa dagang dan entrepeuner maka itu bukan masyarakat dengan filosofi orang Kudus,” terangnya.

Hal itu membuatnya memiliki spirit untuk mencetak masyarakat yang mampu bekerja dengan giat. Dengan masyarakat memilihnya sebagai bupati pun ia berjanji bahwa waktu, pikiran, dan tenaganya telah diwakafkan untuk masyarakat Kudus.

Mustofa mengatakan, ia berupaya membangun daerah tanpa harus melulu bergantung dengan APBD. Katanya, di Kudus ada program kredit yang tidak menggunakan jaminan, serta dengan tidak menggunakan APBD.

Program kredit sangat ia dukung bersama Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Tengah untuk masyarakat. Karena Ekonomi kerakyatan menjadi kunci mengangkat kesejahteraan masyarakatnya.

Menjadi sosok orang nomor satu di daerahnya, bagi Musthofa hal yang biasa-biasa saja. “Bupati ndak selalu sibuk, wong kita bisa santai karena semua pekerjaan bisa dibagi,” tukasnya.

Untuk membangun kesejahteraan masyarakat sumber daya manusia (SDM) menjadi dasar bagaimana menerawang masa depan. Mustofa menjadikan Kudus sebagai pakubumi pendidikan. Ia mengatakan perlu merubah mindset bagaimana semua orang itu harus belajar.

Kudus sebagai daerah pendukung program pendidikan vokasi, getol menerapkan sistem tersebut. “Bagaimana memproduksi SDM ialah dengan tenaga pendidik dan kurikulum yang juga baik. Sekarang di Kudus ada 14 SMA/SMK yang dibiayai dari non APBD,” ucap Kang Mus sapaan akrab Musthofa.

Bupati Batang Kang Yoyok

Yoyok Riyo Sudibyo, Bupati Batang.
Yoyok Riyo Sudibyo, Bupati Batang.

Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo, menceritakan awal mulanya menjadi kepala daerah. Ia menjadi bupati tanpa bekal ilmu politik apapun karena dirinya hanya lulusan Akademi Militer pada tahun 1994 dan menjadi prajurit berpangkat mayor kemudian beralih menjadi pedagang.

Ia pun tidak siap menjadi seorang bupati karena masyarakat yang mendorongnya. Ia mengaku tertekan dengan jabatannya itu, sehingga pilihan untuk mengundurkan diri seringkali datang dibenaknya.

“Alhamdulillah saya dengan dukungan Ibu, saya masih jadi bupati,” celoteh kang Yoyok dengan riuh tepuk tangan dan tawa ratusan audience yang hadir di Guntur Hall Hotel Grasia Semarang itu.

Kang Yoyok pernah bersumpah yang disampaikan kepada masyarakat Batang, dengan cukup menjadi bupati satu kali saja. Ia pun tidak akan berpartai politik dan tidak akan masuk politik selama menjadi bupati.

“Sudah cukup sekali saja itu sumpah saya, saya pusing jadi bupati,” katanya masih diiringi tepuk tangan audience yang dihadiri juga oleh beberapa dinas.

Kiprahnya sebagai kepala daerah, ia melihat adanya fenomena kepercayaan terhadap pemerintah daerah yang kecil. Hal itu yang mencoba dirubahnya.

Ia menjelaskan, sistem pemerintahan yang korup terjadi hampir menyeluruh di segala lini. Terlebih untuk suatu proyek-proyek.

Sistem seperti demikian memang sulit ditangani. Ia menceritakan suatu ketika semua kontraktor pemenang lelang dikumpulkan untuk integritas dengan menandatangani kesepakatan pengerjaan proyek secara benar.

Namun sebelum seratus persen uang dibayarkan kepada kontraktor, Kang Yoyok bekerja sama dengan perguruan tinggi Universias Negeri Semarang kemudian meminta meneliti proyek-proyek yang telah dikerjakan.

“Hasilnya, 50 persen proyek yang dikerjakan tidak sesuai. Mereka (kontraktor) korup,” pungkasnya.

Cerita lainya ialah keterbukaan Pemkab Batang dalam transparansi anggaran pemda. Salah satunya dengan menampilkan data anggaran pembangunan di videotron yang ditampilkan kepada publik.

Bagi Kang Yoyok, Transparansi tanpa inovasi itu bohong. “Inovasi tanpa Transparansi tidak bisa dilakukan, semua itu bagai membangun istana diatas pasir,” cetusnya.

Bupati Bojonegoro Suyoto

Suyoto, Bupati Bojonegoro.
Suyoto, Bupati Bojonegoro.

Bupati Bojonegoro Suyoto mengatakan dirinya memiliki Background seorang guru. Baginya menjadi bupati berarti dari mengajar menjadi pendengar sehingga tugas utama politisi itu bukan asal ngomong namu lebih banyak mendengar.

Dengan menjadi kepala daerah ia mengatakan, menjadi tahu masalah rakyat Bojonegoro. “Permasalahan masyarakat itu tidak jauh-jauh dari kesehatan, infrastruktur,” terangnya.

Kabupaten Bojonegoro, menurut Suyoto hanya memiliki serapan APBD yang rendah. Namun dengan keterbatasan itu ia justru melihat peluang untuk berbuat. Keinginannya ialah melihat peluang membantu rakyat dengan segala permasalahannya.

Kesuksesan dalam memimpin, kata dia, ialah dari apa yang diperbuat dan berikan. Tugas para pemimpin adalah menjual sesuatu pada rakyatnya dengan menjual janji dan harapan. Setelah itu menjual bukti kepada masyarakat.

Tujuan utama untuk masyarakat baginya ialah membuat yang miskin jadi cukup, yang cukup menjadi kaya, dan yang kaya menjadi semakin kaya untuk sesama. (Diaz Abidin)

Artikel sebelumnya[PhotoEvent] Journey to Success on Stage Agustus 2016
Artikel selanjutnyaKang Mus Sambut Kedatangan Owi-Butet