Menangkal Ancaman Nyata Dari Dunia Maya Terkait Radikalisme

Semarang, Idola 92.6 FM – Awal Agustus 2016, polisi menangkap enam terduga teroris anggota Katibah Rebus di Batam. Mereka merencanakan aksi teror ke Singapura. Kelompok ini menggunakan jalur siber untuk direkrut dan merekrut, mengakses materi-materi pelatihan hingga merencanakan aksi.

Merujuk pada harian Kompas (31/8), Kepala Divisi Humas Polri Boy Rafli Amar menyatakan, saat merencanakan aksi terror di Singapura, kelompok Katibah Gonggong Rebus berkomunikasi melalui Facebook dengan Bahrun Naim, salah seorang pemimpin sayap militer Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) asal Indonesia. Kasus ini menunjukkan bahwa dunia siber telah menjadi domain baru gerakan teroris. Pemetaan jaringan teroris tidak lagi selalu harus berkaitan dengan kelompok besar seperti Al Qaeda atau ISIS. Ada kelompok-kelompok, bahkan individual yang sama radikal dan berbahayanya yang tercipta hanya lewat interaksi di media social.

Tindakan IAH, remaja 17 tahun meledakkan sesuatu yang diduga bom dan melakukan percobaan pembunuhan di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Medan, Sumatera Utara, Minggu lalu ditengarai dipicu oleh video ISIS yang dia tonton terutama mengenai serangan teros ISIS di Paris November 2015.

Dalam pertemuan Regional Risk Assessment on Terrorism Financing 2016 South East Asia and Australia di Bali, pertengahan Agustus lalu, disebutkan bahwa Indonesia masuk dalam kategori sangat terancam. Saat ini, ada 568 orang Indonesia yang pergi ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan ISIS. Sebanyak 183 orang di antaranya telah kembali. Angka ini adalah yang tertinggi dibandingkan dengan Malaysia dengan 73 orang dan Australia 110 orang yang telah berangkat ke Suriah dan Irak. Pihak yang berwajib telah mendeteksi ada 11 kelompok teroris aktif di Indonesia saat ini.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Suhardi Alius menyatakan, pemerintah akan membentuk gugus tugas untuk menangani terorisme di dunia maya. Gugus tugas ini beranggotakan kementerian terkait dengan keanggotaan tetap dan memiliki akses langsung kepada menteri. Gugus tugas ini merupakan langkah maju namun ada catatan, gugus tugas ini idealnya tidak memandang terorisme siber sebagai kejahatan yang berdiri sendiri. Konflik di ruang siber selalu mencakup banyak konteks termasuk politik, ekonomi, informasi, teknologi, media dan ideology. Batas antara bidang satu dan yang lain telah kabur. Dunia siber telah mengubah batas tradisional antara perang dan damai, meniadakan geografi dan jarak bahkan menipiskan batas antara aktor Negara dan non-negara.

Menangkal ancaman nyata dari dunia maya terkait radikalisme terutama di kalangan remaja, Radio Idola 92.6 FM mengajak Anda untuk ikut urun rembug, berbagi pandangan dan bertukar pemikiran. Apa yang mesti dilakukan pemerintah dan segenap elemen bangsa untuk menangkal anyaman nyata dari dunia maya terkait radikalisme di kalangan remaja? Untuk menjawab pertanyaan itu, kami akan mengajak diskusi dua narasumber yakni: Wawan Purwanto, pengamat terorisme UIN Syarif Hidayatullah dan Solichul Huda, Pakar IT Udinus. (Heri CS)

Berikut perbincangan khas Panggung Civil Society Radio Idola Semarang bersama Wawan Purwanto dan Solichul Huda:

Artikel sebelumnyaKesbangpol Kendal: LSM Tidak Boleh Jadi Penyidik
Artikel selanjutnyaMasyarakat Didorong Manfaatkan Lahan Pekarangan Untuk Ditanami