Semarang Waspada Demam Berdarah Dengue

Semarang, RadioIdola – Wakil Direktur Pelayanan RSUD Kota Semarang Sarwoko Oetomo mengatakan, pada musim pancaroba sekarang ini penyakit yang mudah terjangkit pada tubuh manusia antara lain DBD, tipus dan muntaber. Pada kasus DBD ini paling banyak ditemukan pada anak-anak. Ia menyebutkan, di awal bulan Januari 2016 ini di rumah sakit milik Pemkot Semarang itu sudah merawat 20 pasien DBD.

“Lebih dari separuhnya merupakan pasien anak-anak dengan rentang usia antara 1-14 tahun,” kata Sarwoko kepada Radio Idola 92.6 FM baru-baru ini.

Menurut Sarwoko, pada akhir bulan Desember 2015, ada 27 pasien penderita DBD baik anak-anak maupun dewasa yang dirawat di RSUD Kota Semarang. Ia menjelaskan, jumlah itu mengalami penurunan bila dibanding bulan-bulan sebelumnya. Lebih lanjut Sarwoko menjelaskan, sepanjang 2015 kemarin kasus DBD yang paling tinggi ada di bulan Februari dan Maret 2015. “Kemudian memasuki bulan berikutnya berangsur-angsur mulai mengalami penurunan.”

Ia menambahkan, untuk menghindari dari DBD diperlukan langkah 3 M yaitu menguras bak mandi atau tempat penampungan air, mengubur barang bekas dan menutup rapat tempat penampungan air harus terus dilakukan. Tidak hanya di lingkungan rumah tempat tinggal tetapi juga di lingkungan sekolah. Sebab, rata-rata anak-anak digigit nyamuk saat berada di sekolah. Yakni, antara jam 8 pagi sampai jam 2 siang. “Singkatnya, perilaku hidup bersih dan sehat harus terus digalakkan,” imbuhnya.

Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat, sepanjang 2015 terdapat 1.729 kasus DBD. Dari 16 kecamatan di Kota Semarang wilayah yang masuk kategori endemis DBD ada di Kecamatan Tembalang, Banyumanik dan Ngaliyan. Dinas Kesehatan Kota Semarang mulai tahun ini memberlakukan sanksi bagi warga yang malas membersihkan rumah dan lingkungan melalui program 3M. Sanksi itu berupa denda sebesar Rp50 juta atau sanksi kurungan tiga bulan. Sanksi itu terdapat di Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2010 tentang Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). (Budi Aris / Heri CS)

Artikel sebelumnyaSemarang Trending Topic: Branding Masih Menjadi Problem Kota Semarang
Artikel selanjutnyaProf Lako: Garap Kota Lama Perlu Konsen!