Weekend Review: Mudik, Antara Makna Hakiki Dan Artifisial

Semarang, Idola 92.6 FM – Ritual mudik selalu diawali dan diakhiri dengan bersusah payah. Untuk mewujudkannya pun harus diperjuangkan dengan berdarah-darah. Bahkan, nyawa pun rela menjadi taruhannya. Meski menanggung risiko besar, irama ritual mudik selalu berputar kencang untuk menyedot para pengembara dan perantau setia. Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta, Sumbo Tinarbuko menilai, kencangnya perputaran itu dimaksudkan agar menyegarkan energi yang kerontang akibat digilas mesin waktu kehidupan. Tetapi ketika ritual mudik nan fitri diformat dalam konteks keinginan, maka para pemudik terjebak gaya hidup budaya konsumtif yang tampil secara artifisial. Semuanya ditimbang lewat takaran uang yang ada di genggamannya.

Ini kata Radhar Panca Dahana-Sosiolog Antropolog dan budayawan. Budaya mudik sebenarnya tak ada hubungannya dengan Lebaran atau Idul Fitri. Indonesia, menurutnya, merupakan salah satu bangsa yang paling masif ritual melakukan tahunan mudik pada momentum Lebaran. Menurut Radhar, mudik memiliki makna upaya manusia-manusia rantau yang rata-rata hidup di kota untuk mencari sumber di mana dia berasal. Melalui mudik dan pulang ke kampung halaman, mereka seolah bisa diterima kembali. Dia menambahkan, budaya mudik dari dahulu dan kini tak ada yang berubah. Intinya banyak masyarakat urban kehilangan eksistensi di kota dan meneguhkan kembali di daerah udik untuk bisa diterima kembali di daerah asal muasalnya.

Masih menurut Radhar, lebaran digunakan sebagai momentum seperti upacara penyucian diri. Sebenarnya, mudik bisa dilakukan kapan saja dan Lebaran hanya menjadi momentum yang dianggap tepat karena biasanya libur panjang. Persoalannya, saat ini semakin banyak orang yang kehilangan kehancuran dirinya di kota. Mereka membutuhkan desa sebagai penebus dirinya kembali, menebus sisi kemanusiaannya dan kembali secara kosmik.

Sementara itu, M. Sobari – Budayawan menilai, mudik memiliki makna beda-beda bagi tiap orang. Namun, kalau secara umum untuk merayakan Lebaran itu sendiri. Merayakan Lebaran di kampung ketika mereka kecil dulu. Menurut Sobari, makna Lebaran luas sekali. Lebih dari sekadar minta maaf dan memperbaiki diri atas kesalahan yang diperbuat. Kang Sobari juga menyebut, satu hal yang penting dalam memaknai Lebaran yakni mewujudkan makna kesalehan dalam hidup yakni kesalehan sosial.

Menurut Sobari, mudik menjadi bagian dari konsumerisme. Ia mencontohkan, jika di Jakarta transportasi tidak diperlukan, tetapi karena Tuntutan harus mudik konsumerisme lebih terwujud. Kebutuhan uang lebih banyak ketika pulang kampung. Mudik adalah ikhtar manusia untuk seolah kembali ke asal muasalnya. Mudik menjadi tradisi tahunan yang menyita perhatian tidak hanya warga yang mudik namun juga Negara. Ritual mudik menjadi ajang kembali kaum rantau yang selama ini seolah berjarak dengan kampung halaman identitas dan spiritualismenya. Perlahan tetapi pasti, pemudik seolah menjadi agen kapitalisme global yang akan mengubah karakter dan pola pikir masyarakat dari yang sederhana kepada yang serba lebih dan tercerabut dari akarnya. Padahal — menyitir budayawan M Sobari, satu hal yang penting dalam memaknai Lebaran yakni mari kita kembali dan bersama mewujudkan makna hidup yakni kesalehan sosial. (Doni Asyhar)

Artikel sebelumnyaYenny Wahid Bersyukur Menjadi Anak Gus Dur
Artikel selanjutnyaGanjar Pranowo: Mudik Produktif Perlu Ditingkatkan