Ekonomi Berubah, Penyesuaian Seperti Apa Yang Diperlukan Di Tengah Kepercayaan Masyarakat Meningkat?

Semarang, Idola 92.6 FM-Indonesia menghadapi stagnasi pertumbuhan ekonomi setelah era komoditas primer tahun 2011. Untuk kembali ke jalur pertumbuhan di atas 6 persen, selain menyasar masalah struktural, pemerintah juga perlu melakukan penyesuaian di berbagai aspek karena ekonomi sedang berubah sejalan dengan perubahan gaya hidup manusia. Demikian mengemuka dalam Diskusi Panel Ekonomi “Menyikapi Ekonomi yang Berubah” yang digelar Kompas Selasa lalu.

Menurut Faisal Basri, salah satu panelis, indikator ekonomi makro banyak membukukan catatan positif. Hal itu di antaranya inflasi rendah, cadangan devisa meningkat, ekspor-impor membaik, nilai tukar rupiah stabil, dan deficit transaksi berjalan dalam batas wajar.

Di sisi lain, tingkat kepuasan warga terhadap kinerja pemerintah kembali naik pada tahun ketiga masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kala. Namun, pemerintah perlu memperbaiki sector ekonomi yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Berdasarkan hasil survei opini publik yang dilakukan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) baru-baru ini, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah terus membaik.

Tahun 2015, sebanyak 50,6 persen responden menyatakan puas. Angka itu naik menjadi 66, 5 persen pada 2016 lalu menjadi 68,3 persen pada 2017. Kenaikan tingkat kepuasan publik itu juga terlihat relative stabil pada beberapa bidang utama, yakni: ekonomi, hukum, dan maritime.

Lantas, penyesuaian kebijakan seperti apa yang diperlukan pemerintah untuk menyikapi ekonomi yang berubah? Apa pula stimulus yang diperlukan untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi di tengah kepercayaan masyarakat yang semakin meningkat? Sudahkah berbagai kebijakan fiskal yang diluncurkan berdampak optimal?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola 92.6 FM berdiskusi dengan beberapa narasumber yakni: Ari Kuncoro (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia) dan Reza Hafiz (eneliti INDEF, Institute for development of Economics and finance). (Heri CS)

Berikut Perbincangannya:

Artikel sebelumnyaC Radio Dan PT Bhinaya Akan Luncurkan “Bhinaya Channel”
Artikel selanjutnyaPertamina Sosialisasi Trade In Bright Gas 5,5 Kg ke Masyarakat Mampu