Menyoroti Keterpilihan Dan Kegagalan Petahana Dalam Pilkada

Semarang, Idola 92.6 FM – Pilkada langsung kini tak sepenuhnya ramah bagi petahana atau incumbent maupun bagi figur yang disukai rakyat sekalipun. Padahal, seharusnya petahana lebih mudah mempertahankan kekuasaan karena punya akses luas kepada rakyat selama lima tahun menjabat. Namun, merujuk pada kajian Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) dalam pilkada serentak 2017 hanya 60 persen petahana yang bertahan. Sisanya kalah oleh penantangnya.

Meunurut dosen FISIP Universitas Brawijaya yang juga penulis buku Patronage Driven Democrazy: Emerging Local Politics in Post-Soeharto Indonesia praktik demokrasi saat ini membuat perilaku anut grubyuk atau memilih dengan mengikuti suara mayoritas di lingkungan. Secara budaya, memilih dengan pola ini merupakan upaya individu untuk turut menjaga semangat komunal dan menghindari konflik sekaligus saling menghormati dalam bertetangga. Ini membuat perilaku mengikuti suara mayoritas rentan dimanipulasi para broker politik.

Lantas, kenapa pilkada langsung kini tak sepenuhnya ramah bagi petahana? Apa sebenarnya faktor yang memengaruhi nasib petahana dalam proses pilkada langsung? Lalu, benarkah dalam setiap pelaksanaan pemilu atau pilkada/ selalu diwarnai dengan fenomena “anut grubyuk” atau perilaku individu mengikuti suara mayoritas di lingkungannya?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Radio Idola 92.6 FM akan berdiskusi dengan beberapa narasumber yakni: Wawan Sobari (dosen FISIP Universitas Brawijaya Malang) dan Titi Anggraini, Direktur Eksekutif Perludem (Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi). (Heri CS)

Berikut Perbincangannya:

Artikel sebelumnyaPipa CB 1 Bocor, Pertamina Pastikan Pasokan Premium ke Jabar Tidak Terganggu
Artikel selanjutnyaSemen Indonesia Akui Ada Penyusutan Luasan Lahan Tambang Yang Akan Dieksplorasi di Rembang