Pengamat Militer: Australia Tidak Sensitif

Semarang, Idola 92.6 FM – Pengamat militer Prof Anak Agung Banyu Perwita mengatakan keputusan TNI memutuskan hubungan militer dengan Australia sangat tepat. Dalam wawancara di Radio Idola, Prof Banyu menyebut, Australia tidak sensitif dengan isu-isu kedaulatan NKRI. Soal untung rugi atas keputusan itu, menurut Prof Banyu, kerugian terbanyak justru ada di Australia terkait dengan posisi Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara yg ada di bagian utara Australia, yang bisa menjadi “benteng” bagi Australia secara militer.

Prof Banyu menambahkan, jika menilik sejarah hubungan Indonesia – Australia, gambarannya seperti “roller coaster”, naiknya pelan tapi turunnya terlalu cepat. Karena itu, menurutnya ke depan, Indonesia harus memberi sikap tegas agar Australia lebih respect, karena itu adalah kunci dari hubungan bilateral.

Satu hal yang memprihatinkan, ujar Prof Banyu adalah ketika “pelecehan” terakhir Australia justru dilakukan oleh “oknum2 militer” yang seharusnya memiliki pemahaman lebih baik atas Indonesia dibanding masyarakat umum Australia.

Sebelumnya di kabarkan, Markas Besar Tentara Nasional Indonesia memutuskan untuk menghentikan sementara kerja sama militer dengan Australia Defence Force. Meski demikian pemerintah akan tetap menjalin hubungan yang baik dengan Australia. TNI mengungkapkan, pembatalan ini dilakukan karena ada temuan dari perwira TNI yang bertugas di Australia. Dalam kurikulum miiter Australia ditemukan dukungan pada kemerdekaan Timor Leste dan Papua, serta Pancasila yang diplesetkan menjadi Pancagila. Sejak ditemukan hal yang melecehkan itu, perwira TNI yang menjadi pengajar telah ditarik. Materi pelajaran yang menjelekkan Indonesia juga dihentikan. Sementara itu, Marsekal Mark Binskin dari Australia Defence Force sudah meminta maaf atas isi kurikulum tersebut. Mark juga menyatakan materi itu sudah dicabut dan pihaknya juga telah melakukan investigasi atas kasus tersebut.

Berikut wawancara lengkap dengan Pengamat Militer Prof Anak Agung Banyu Perwita.

Artikel sebelumnyaKiki Syahnakri: Lima Ancaman Global Bagi Indonesia
Artikel selanjutnyaIdeologi Pancasila Sebagai Benteng Ancaman Perang Tak Berbentuk