Sukmariyah, Perempuan Pengentas Kemiskinan Dari Tangerang Banten

Sukmariyah. (Photo: KickAndy)

Kemiskinan masih membelit negri ini. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di desa per September 2016 mencapai 17,28 juta jiwa atau 62,23 persen dari total populasi penduduk miskin di Indonesia. Untuk itu, dalam sebuah kesempatan, Presiden Joko Widodo memerintahkan seluruh jajaran menteri Kabinet Kerja bekerja keras mati-matian untuk meningkatkan pemerataan tingkat kesejahteraan masyarakat di seluruh Indonesia. Kita masih menunggu para punggawa negri ini untuk bekerja keras mewujudkan impian seluruh anak negri yaitu berkurangnya angka kemiskinan.

Sejenak, mari kita lihat sosok salah satu anak negri yang sudah bekerja keras untuk berbakti pada Ibu pertiwi. Namanya Sukmariyah. Hal mendasar yang menjadi pendorong dalam berkarya untuk sesama adalah, bahwa Kemuliaan hidup yang sebenarnya bagi seseorang adalah ketika bermanfaat bagi orang lain. Demikian pula kebahagiaan sejati adalah ketika orang mampu membuat orang lain merasa bahagia.

Sukmariyah, Perempuan berusia 36 tahun yang mencurahkan jiwa dan raganya untuk menolong warga di sekitar tempat tinggalnya, tepatnya di Kampung Rancagede Kaler, Desa Munjul, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang. Sukmariyah merasa sedih ketika melihat warga di sekitar tempat tinggalnya mayoritas hidup dalam kondisi miskin. Begitu banyak pengangguran, anak telantar karena orangtua tak punya pekerjaan. Ada sebagian yang mempunyai usaha, namun kembang-kempis karena kekurangan modal. Keprihatinan yang mendalam serta keinginan untuk mengangkat derajat masyarakat, membuat Sukmariyah memberanikan diri bertanya kesana-kemari. Dia mendatangi sejumlah instansi untuk mendapatkan informasi mengenai bantuan bagi warga miskin dan pengusaha kecil.

Usaha perempuan kelahiran Tangerang, 12 November 1981 ini tidak sia-sia. Tepatnya pada Bulan Maret 2010, dari kantor Dinas Sosial Kabupaten Tangerang, Sukmariyah mendapat informasi akan adanya bantuan dari Kementerian Sosial bagi masyarakat miskin, dalam program yang dinamakan Kredit Usaha Bersama (Kube). Sukmariyah pun mencari tahu lebih dalam, bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan bantuan tersebut. Kemudian Sukmariyah membuat proposal untuk mendapatkan bantuan.

Sukmariyah. (Photo: KickAndy)

Orang akan mendapatkan hasil sesuai dengan usahanya. Demikian juga Sukmariyah. Proposal yang dia ajukan, ternyata disetujui. Maka dana Rp 30 juta dari pemerintah pun bergulir. Sebagian, yakni Rp 15 juta di antaranya, oleh Sukmariyah dibelikan mesin jahit sebanyak 8 unit. Sedangkan sisanya digulirkan kepada sejumlah pengusaha kecil di Kecamatan Solear, seperti tukang sayur, penjual nasi uduk, dan juga pemilik usaha toko kelontong. Waktu berjalan. Apa yang dilakukan Sukmariyah mulai dirasakan oleh masyarakat setempat. Mereka pun antusias dan menyambut dengan gembira ide-ide brilian Sukmariyah demi mengangkat taraf hidup masyarakat.

Maka pada 20 April 2011, Sukmariyah mempelopori berdirinya Koperasi Mitra Mandiri Sejahtera. Koperasi ini mempunyai unit usaha simpan-pinjam. Di samping itu juga membina warga secara gratis, agar mempunyai bekal keterampilan seperti menjahit , membuat sepatu dan lain sebagainya, sehingga kelak berguna untuk menjalankan usaha. Sukmariyah tentu tidak sendirian dalam melangkah. Bersamanya ada sejumlah individu yang merelakan diri menjadi sponsor dengan cara menabung di koperasi. Dengan banyaknya dana tabungan, modal yang dipinjamkan juga semakin besar. Selain itu tentu saja Dinas Sosial, Dinas Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Sukmariyah bersama pihak-pihak ini bersatu padu, agar prakarsa untuk mengangkat derajat dan taraf hidup masyarakat dapat tercapai dan berkesinambungan.

Sebagai dampak dari kerja keras perempuan perkasa dan pihak-pihak yang mendukungnya, kini tak kurang dari 100 pengusaha kecil telah merasakan sentuhan bantuan permodalan dari Koperasi Mitra Usaha Mandiri. Tak kurang 190 orang miskin juga terbantu. Tigapuluh orang penjahit konveksi merasakan hasil binaan. Dan 13 anak telantar kini tengah terlibat dalam kegiatan pembinaan keterampilan. Ditambah lagi 20 orang ibu rumah tangga, juga mulai berdaya dengan ikut kursus menjahit gratis. Ide yang kali pertama terbetik di benak seorang Sukmariyah, dan diwujudkan satu tahun kemudian, hingga kini masih berlangsung dan berlanjut. Pengangguran mulai berkurang, yang semula miskin mulai terangkat taraf hidupnya. Pendeknya, masyarakat Kecamatan Solear kini lebih berdaya. Dari bantuan awal senilai Rp 30 juta, kini omzet anggota kelompok pemberdayaan yang diprakarsai Sukmariyah per bulan menjadi senilai Rp 500 juta. Sebanyak Rp 187 juta di antaranya merupakan omzet khusus koperasi.

Kegigihan Sukmariyah untuk membantu mengangkat derajat dan taraf hidup masyarakat di sekitarnya, membuatnya layak untuk menerima penghargaan Danamon Social Entrepreneur Awards 2013. Semoga kisah Sukmariyah ini menginspirasi kita semua, untuk turut melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Semakin banyak “Sukmariyah”, semakin banyak warga yang akan tertolong masa depannya.

Tulisan ini men “daur ulang” tulisan Niken Satyawati di Kompasiana berjudul Sukmariyah: Memberdayakan Warga, Menjemput Asa Tulisan

Dengarkan wawancara Radio Idola bersama Sukmariyah berikut ini:

Artikel sebelumnyaTerakreditasi “A”, Politeknik Sebagai PT Vokasi Lebih Bersaing
Artikel selanjutnya31 Januari Semua Pedagang Ikan Pasar Rejomulyo Harus Pindah Ke Pasar Baru