Sugito, Kades Perajut Desa Mandiri Di Lereng Gunung Slamet

Sugito. (photo: tribunnews)

Sugito, Kepala Desa Serang, Kabupaten Purbalingga, di lereng timur Gunung Slamet, berhasil merubah desa yang dulunya sunyi, miskin, dan tertinggal, menjadi desa mandiri yang dalam tiga tahun terakhir, menjadi magnet wisata alam dan agro di Jawa Tengah bagian selatan.

Sugito mengembangkan potensi daerah sesuai kearifan lokal. Ia menceritakan, awalnya tidak mudah merangkul warga dalam kegiatan pariwisata. Ia perlu waktu hingga enam tahun untuk meyakinkan mereka. Pada akhirnya mereka tertarik juga terlibat.

Sugito lahir di Desa Serang. Ia pernah merantau dan bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang agroindustri. Hidupnya boleh dikata sudah cukup mapan.

Namun, hatinya sering gusar melihat kemiskinan membelenggu warga di desanya. Padahal, desa tersebut dianugerahi tanah subur dan keindahan alam.

Pada satu titik, ayah dua anak itu tergerak membantu warga keluar dari belenggu kemiskinan. Ia pun memilih berhenti bekerja dan pulang ke kampungnya yang terletak sekitar 7 kilometer di lereng timur puncak Gunung Slamet.

Berbekal pengalaman di tempat kerja sebelumnya, Sugito mencoba menggerakkan warga lewat pertanian. Ia memperkenalkan sistem pertanian terpadu. Ia mengajarkan cara bercocok tanam yang baik dan cara beternak kambing etawa dan kelinci.

Selanjutnya, ia mengajak warga menanam stroberi yang belakangan menjadi salah satu tanaman unggulan agrowisata di Desa Serang. Awalnya, dia membawa sejumlah bibit stroberi dari wilayah Ciwidey, Bandung, Jawa Barat.

Melihat kiprah Sugito, pada 2007, ia didaulat warga untuk maju pada pemilihan kepala desa setempat. Setelah terpilih sebagai kepala desa, Sugito kian getol memperjuangkan kemajuan Serang. Dia kembangkan Serang menjadi sentra sayur-mayur di Purbalingga.

Sugito pun menjadikan Serang sebagai desa wisata. Awalnya, dia membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan mengandalkan wisata petik stroberi.

Awal 2010, pemerintahan Kabupaten Purbalingga menetapkan Desa Serang sebagai desa wisata pertama. Akhir 2010, Sugito berinisiatif membentuk badan usaha milik desa (BUMDes). Baginya, pengelolaan wisata melalui badan usaha bakal lebih profesional.

Sugito kini berbangga. Perekonomian desa yang digerakkan pariwisata tumbuh tanpa mengikis kearifan lokal. Mereka membuktikan mampu hidup mandiri dengan potensi yang dianugerahkan Sang Pencipta sedari mula. (Doni Asyhar)

Artikel sebelumnyaMerevitalisasi Nilai-Nilai Pancasila
Artikel selanjutnyaBEM Semarang Unjuk Rasa Tolak Kenaikan Harga BBM