Brand Orbit sebagai Strategi Menarik Pelanggan

Semarang, Idola 92.6 FM – Strategi Brand Orbit menjadi salah satu strategi yang diterapkan perusahaan sukses untuk menarik calon konsumen atau pelanggan. Strategi ini dilakukan dengan cara menarik pelanggan untuk masuk ke orbitnya. Mereka tidak memperlakukan pelanggan sebagai target pasif tapi layaknya peserta aktif. Seperti matahari di tata surya, perusahaan sukses menciptakan medan gravitasi yang menarik pelanggan ke orbitnya.

Demikian mengemuka dalam Idola Business Gathering yang digelar Radio Idola Semarang bekerjasama dengan Citraland BSB City, Jumat (27/7/2018) di Hotel Grasia Semarang. Dalam acara yang mengambil tema “Bagaimana Merek-Merek Top Menarik Pelanggan melalui strategi Brand Orbit?” itu hadir pula narasumber: Ir Jatmiko Arif Wibowo (General Manager CitraLand BSB City), Calvin Hartono (Owner Gado-Gado Boplo Jakarta), Yonardo Garneda Rendrar Putra (Founder Candi Eye Centre Semarang), dan Daniel Lukito (Founder Jordan plastics). Acara dipandu Nadia Ardiwinata (penyiar Radio Idola Semarang).

Ir Jatmiko Arif Wibowo.

Jatmiko mengemukakan, memanfaatkan media sosial menjadi salah satu strategi dalam memahami pelanggan. Selain itu, pemahaman tentang produk (transfer product knowledge) menjadi salah satu pendekatan dalam memberikan kepuasan pada konsumen. Sehingga, konsumen mendapatkan manfaat lebih dari sekadar membeli barang.

Di hadapan puluhan peserta, Jatmiko menuturkan, melalui transfer product knowledge pihaknya seolah memikat calon konsumen. Apa yang ditawarkan tak semata memberikan keuntungan namun juga manfaat langsung yang bersifat jangka panjang.

“Bagaimana isi sebuah hunian itu layak untuk ditinggali dan membuat orang yang tinggal di dalamnya menjadi tidak hanya sekadar nyaman tapi justru lebih sehat lagi,” ujarnya.

Salah satu strategi yang diterapkan, lanjut Jatmiko, adalah faktor bukaan-bukaan pintu yang diperhatikan Citraland BSB City. Selain itu, juga akses rumah dan pencahayaannya. Ini penting sekali,” ujarnya. Sisi lain, pihaknya menerapkan ruang terbuka hijau.

Calvin Hartono.

Sementara itu, Owner Gado-Gado Boplo Jakarta Calvin Hartono menyatakan, memahami karakteristik dan budaya pelanggan menjadi salah satu strategi untuk memikat konsumen. Saat berinteraksi dengan konsumen, dirinya memahami mereka yang dari Jawa, Sumatera, ataupun yang kalangan santri. “Saya jadi hafal kalau orang Jawa suka gado-gado yang manis, Sumatera cenderung suka yang asin,” ujarnya.

Tak jarang, Calvin juga menggantikan karyawan saat tak masuk kerja. Dengan begitu ia berharap konsumen mendapat layanan lebih. “Saat ada kru gak masuk, saya kupas kentang, telur dan respons luar biasa. Bahwa Kita tak malu. Kita mempunyai empati pada karyawan. Karena karyawan lebih respek dengan itu ketimbang kita hanya mengacung-acung kamu ini kamu itu. Alangkah baiknya, leadership by example,” kata lelaki pengagum sosok Richard Branson, pengusaha asal Inggris yang mendirikan 360 perusahaan di bawah bendera Virgin Group.

Salah satu strategi Brand Orbit agar menciptakan medan magnet bagi pelanggan, Calvin baru-baru ini melakukan kerjasama dengan perusahaan media massa. Ia menyediakan ruang untuk diskusi bertema politik. Ruang diskusi itu bernama Perspektif Indonesia. “Dampaknya banyak tamu yang datang dan saya bisa kenalan. Dengan itu, kami tambah networking. Kalau kami iklan akan sangat mahal,” ujarnya.

Daniel Lukito.

Gado-Gado Boplo merupakan resto yang cikal bakalnya berupa warung milik ibu Calvin. Sejak tahun 1970-an warung milik ibunya terus eksis hingga kemudian berkembang. Dalam perjalanannya, pada tahun 2014, Calvin meneruskannya dengan mengubah konsep dari warung ke resto. Gado-Gado Boplo kini telah memiliki 9 resto dimana 4 di antaranya berada di foodcurt.

Daniel Lukito menambahkan, pasar UMKM menjadi salah satu pasar terbesar produknya. Untuk itu, ia juga kerap melakukan kreasi produk. Ini sebagai salah satu strategi Brand Orbit yang diterapkannya yakni purpose atau memahami tujuan, platform, dan mitra yang kolaboratif.

Yonardo Garneda Rendrar Putra.

“UMKM selalu kreatif dan kami mengimbanginya. Kita imbangi dengan inovasi bentuk botol yang kreatif. Jika perlu kita desainkan. Tapi kita juga produksi yang open item,” ujarnya.

Sementara itu, Yonardo Garneda Rendrar Putra menuturkan, menggandeng para dokter menjadi strategi awal dalam membangun Candi Eye Centre Semarang sebagai rumah sakit mata pertama di Kota Semarang. Pemegang saham rata-rata adalah para dokter. “Saya ajak mereka, daripada memiliki uang untuk bisnis di bidang lain kenapa tidak bisnis sesuai bidangnya,” ujarnya. (her)

Artikel sebelumnyaGanjar: Pembukaan Jembatan Timbang Jangan Sampai Bebani Konsumen
Artikel selanjutnyaDinakerstrans Jateng Gandeng Perusahaan Siapkan Tenaga Kerja Sambut Era Revolusi Industri 4.0