Kementerian ESDM Terus Sosialisasi Penggunaan Bahan Bakar B30

Kepala Badan Litbang Kementerian ESDM Dadan Kusdiana (kanan) melihat contoh bahan bakar B30 di kantor Dinas ESDM Jateng, belum lama ini.
Kepala Badan Litbang Kementerian ESDM Dadan Kusdiana (kanan) melihat contoh bahan bakar B30 di kantor Dinas ESDM Jateng, belum lama ini.

Semarang, Idola 92.6 FM – Kementerian ESDM terus melakukan uji coba dan sosialisasi tentang penggunaan bahan bakar B30 (campuran 30 persen biodisel pada bahan bakar solar), kepada para pengusaha di sejumlah wilayah di Indonesia. Sosialisasi lebih ditujukan, kepada pengusaha yang memiliki armada dengan penggunaan bahan bakar solar cukup banyak.

Kepala Badan Litbang Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan untuk hasil uji coba dan sosialisasi saat ini sudah mencapai 80 persen, dan sampai sekarang belum ada kendala pada kendaraan yang diujicobakan. Bahkan, untuk kendaraan penumpang dari target penggunaan hingga 50 ribu kilometer sekarang sudah menempuh jarak 42 ribu kilometer.

Menurutnya, kendaraan yang dijadikan uji coba belum ditemukan adanya masalah teknis. Bahkan, hasil pemeriksaan akhir menyebut jika performa mesin dan konsumsi bahan bakar tetap prima dan hemat bahan bakar.

Dadan menjelaskan, seluruh hasil uji coba B30 juga telah disampaikan kepada menteri ESDM sebagai bahan laporan. Bahkan, hasil laporan juga telah disampaikan ke presiden melalui rapat terbatas (Ratas) dan program B30 akan mulai diberlakukan pada 1 Januari 2020 mendatang.

“Kita ada uji coba di Dieng, mobil itu disimpan paling lama tiga minggu dan tidak dihidupkan sama sekali. Kemudian distater, dan hidup di bawah satu detik. Semua aspek kendaraan sudah lolos B-30. Jadi, tidak ada masalah. Insya Allah, akan mulai diberlakukan pada 1 Januari 2020,” kata Dadan saat di Semarang.

Dadan lebih lanjut menjelaskan, penggunaan bahan bakar B30 nantinya akan menghemat devisa dan mendukung program ketahanan serta kedaulatan energi dalam negeri. Selain itu, dengan adanya B30 ini memberikan keuntungan lainnya. Di antaranya peningkatan harga CPO, penyerapan tenaga kerja dan pengurangan emisi gas buang kendaraan.

“Kita sadari, saat ini impor bahan bakar cukup besar. Penggunaan B30 ini, juga akan meningkatkan nilai tambah bagi industri hilir kelapa sawit,” tandasnya. (Bud)

Artikel sebelumnyaPemprov Jateng Siap Kawal Aspirasi Mahasiswa ke Jakarta
Artikel selanjutnyaBagaimana Menemukan Jalan Tengah Konflik di Papua

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini