Kudus, Kawasan “Seksi” dan Menawan bagi Investor

Semarang, Idola 92.6 FM – Kabupaten Kudus menjadi salah satu kawasan “seksi” dan menawan bagi investor di Provinsi Jawa Tengah. Pemkab terus melakukan berbagai upaya kreativitas untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, namun yang menjadi tantangan Kudus adalah persoalan keterbatasan lahan. Mengingat Kudus merupakan kabupaten yang luas wilayahnya paling kecil di Jawa Tengah dengan luas wilayah sekira 425,16 kilometer persegi.

Demikian mengemuka dalam acara Panggung Civil Society bertema “Prospek Pembangunan SDM bagi Pertumbuhan Ekonomi di Era Revolusi Industri 4.0” oleh Radio Idola Semarang bekerjasama dengan Pemkab Kudus, Rabu (20/11/2019) di HCI Convention Semarang.

Hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut: Plt Bupati Kudus HM Hartopo, Kepala Bappeda Kabupaten Kudus Sudjatmiko, dan Pengamat Ekonomi Unika Soegijapranata Semarang Prof Dr Andreas Lako. Acara dipandu penyiar radio Idola Semarang Nadia Ardiwinata.

Dalam acara yang dihadiri puluhan orang dari berbagai kalangan itu, HM Hartopo menyampaikan, Pemkab terus memperbaiki SDM agar berdaya saing dan menyongsong puncak bonus demografi. “Apalagi terkait ini pihaknya juga disupport oleh Djarum Foundation. “

Terkait investor, Hartopo juga menyampaikan, pihaknya mendukung pemerintah pusat. Pihaknya selalu terbuka lebar. Siapapun investor yang akan masuk pasti diterima. Untuk ekspor, kita juga selalu terbuka untuk mencari investor di luar. “Namun, kita terkendala aturan tata ruang kita sendiri. Kita ketahui, Kudus merupakan wilayah terkecil di Jateng,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bappeda Kabupaten Kudus Sudjatmiko, menambahkan, Kudus masuk daerah menarik bagi investor dilihat dari indikator. Pertama, ketersediaan SDM yang unggul dan berdaya saing sudah disiapkan. Kedua, wilayahnya kondusif yang salah satunya ditandai dengan tak pernah ada demo tenaga kerja.

“Kudus memiliki tenaga kerja produktif. Tenaga kerja yang berusia produktif 20 tahun sampai 24 tahun sudah mencapai 81 ribu dari 861 ribu jumlah penduduk di Kudus,” terang Sudjatmiko.

Ia menjelaskan, arah pemikiran Plt Bupati HP Hartopo sudah ke arah tersebut sejak menjadi anggota DPRD Kudus. Namun, yang menjadi tantangan investasi di Kudus, banyak yang ingin masuk namun lahan tidak ada. Karena Lahan pertanian pangan berkelanjutan Kudus dipatok 25 ribu hektare, luas wilayah hanya 42 ribu hektare.

“Lahan pertanian riil hanya 17 ribu hektare. Ini debatable terus menerus. Jika tak diubah maka investasi di Kudus akan stagnan,” ujarnya.

Di Kudus, Sudjatmiko menambahkan, ada dukungan dari industri industri untuk penyiapan tenaga kerja profesional. Salah satunya, Djarum Foundation. Sekarang lulusan SMKnya hanya 10 persen yang dipakai Kudus. Sisanya sudah habis dipesan sebelum mereka lulus oleh industri di luar Kudus. “Kurang lebih 1.500 sudah dipesan. Andaikata ada peluang investasi, Kudus sudah siap,” ujarnya.

Kontribusi Kudus Besar bagi Indonesia dan Jateng

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Unika Soegijapranata Semarang Prof Dr Andreas Lako menilai, posisi Kudus dibanding dengan daerah lain sangat menarik. “Kalau saya melihat, Kudus bukan cukup, tapi sangat menarik, sangat seksi. Small is beautiful. Kenapa? Kalau kita bicara Kudus, tidak bisa lepas kontribusinya bagi negara dan Jawa Tengah,” ujarnya.

Meskipun sebagai daerah terkecil di Jawa Tengah, Kontribusi Kudus bagi Indonesia dan Jawa Tengah cukup besar. Kudus sangat seksi dan menawan. “Kalau bicara Jawa Tengah, kita tak bisa abaikan Kudus. Misalnya, korporasi yang berbuat banyak pada negara berasal dari Kudus seperti perusahaan Djarum melalui Djarum Bhakti Olahraga dan Djarum Bhakti Lingkungan,” imbuhnya.

Dari sisi perekonomian, Kudus adalah kabupaten yang unik di jawa Tengah. Kudus merupakan daerah nomor ketiga kontributor terbesar untuk ekonomi bagi Jawa Tengah, setelah Kota Semarang dan Kabupaten Cilacap. Kota Semarang menyumbang dengan Rp174 triliun dari Rp1.206 triliun PDRB di Jawa Tengah atau 13 %. Kemudian, Kabupaten Cilacap Rp110 triliun (8,7 %) sementara Kudus 104 triliun (8,5 %).

“Jadi, Kudus itu wilayahnya kecil tapi beban ekonominya cukup besar. Di dalam lingkungan kecil tapi menanggung beban ekonomi besar. Ini tantangan bagi Kudus,”tuturnya.

Margaria Batik
Peragaan busana koleksi Margaria Batik.

Dalam acara Panggung Civil Society, di sela-sela diskusi juga diselingi dengan peragaan busana koleksi Margaria Batik yang memiliki kantor di Ruko Mall Ciputra C34-35 Semarang. Tema yang dibawakan merupakan koleksi enom.id by Margaria Batik. Yakni, kombinasi 3 motif batik seperti parang, cuwiri, truntum, dan sarung encim yang digradasikan dengan motif salur. Sasarannya kalangan anak muda. Para model berasal dari ASTHA Management & Modelling School yang berkantor di Puri Anjasmoro Blok A10 Semarang. (her)

Artikel sebelumnyaWarga Miskin Grobogan Dapat Sambungan Listrik Gratis
Artikel selanjutnyaMencermati Motif dan Orientasi Usulan Presiden Kembali Dipilih MPR?