Memahami Benang Kusut Mahalnya Tiket Pesawat, Wacana Memasukkan Maskapai Asing ke Industri Penerbangan Lokal, Mungkinkah?

Semarang, Idola 92.6 FM – Persoalan kusut masai mahalnya tiket pesawat masih belum menemukan titik terang. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah belum menyentuh akar persoalan. Di sisi lain, terkait ini, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menilai telah terjadi duopoli di industri penerbangan Indonesia. Duopoli intinya penguasaan pasar oleh dua perusahaan sehingga bisa menentukan harga.

Ketua KPPU Kurnia Toha menegaskan duopoli memang terjadi di Indonesia, namun bukan berarti duopoli melanggar hukum karena memang kondisi pasarnya seperti itu. Meski duopoli tidak melanggar hukum, KPPU akan menyelidiki praktik persaingan usaha tidak sehat sesuai ketentuan Undang-Undang nomor 5 tahun 1999 tentang persaingan usaha tidak sehat. Bukti-bukti pun mulai dikumpulkan KPPU. Kurnia menambahkan salah satu bentuk persaingan tidak sehat yang mau diungkap adalah kerja sama penentuan harga tiket pesawat.

Di tengah upaya penyelidikan duopoli ini, muncul wacana memasukkan maskapai asing ke industri penerbangan lokal. Dengan masuknya maskapai asing ke dalam pasar penerbangan domestik dipercaya dapat menjadi mengatasi harga tiket pesawat yang mahal. Wacana ini bergulir saat Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bercerita bahwa dirinya diusulkan oleh Presiden Joko Widodo untuk membuka kesempatan untuk maskapai asing bisa masuk Indonesia. Sebab, dengan bertambahnya pemain maka industri penerbangan bisa bersaing lebih baik.

Lantas, memahami benang kusut mahalnya tiket pesawat, jalan mana yang mesti ditempuh untuk bisa keluar dari situasi ini? Dugaan terjadinya duopoli pada industri penerbangan Indonesia—benarkah menjadi salah satu biangnya? Lalu, wacana memasukkan maskapai asing ke industri penerbangan lokal, mungkinkah? Akankah ini menjadi obat mujarab mengatasi problem ini?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, nanti kita akan berdiskusi dengan beberapa narasumber, yakni: Agus Herta Sumarto (Dosen FEB Universitas Mercu Buana dan Peneliti INDEF), Alvin Lie (Ketua Jaringan Penerbangan Indonesia (JAPRI)), dan Prof Hikmahanto Juwana (pengamat hubungan internasional). (Heri CS)

Berikut diskusinya:

Artikel sebelumnyaBagaimana Memperbaiki Angkutan Massal untuk Mengatasi Kemacetan Akibat Tingginya Volume Kendaraan?
Artikel selanjutnyaPolda Jateng Sebut Ada 15 Persen Pemudik Belum Balik ke Jakarta

BERIKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda!
Tulis nama anda disini